Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Desember 2017

Pemuda Muhammadiyah Berbicara Tentang Imam Besar Umat Islam Indonesia



Kongres alumni 212 mengangkat Imam Besar GNPF MUI Habib Rizieq Syihab menjadi imam besar umat Islam di Indonesia. Pemuda Muhammadiyah meminta apa yang dilakukan kongres 212 ini tak terlalu dipersoalkan. Siapa saja boleh mengklaim atau diklaim jadi Imam, namun harus menghadirkan akhlak yang tinggi.

"Saya kira sah saja secara subjektif siapa saja bisa mengklaim mengangkat Imam Besar Umat Indonesia," kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, lewat keterangan tertulisnya, Sabtu (2/12/2017).

"Silakan saja, karena Imam itu adalah posisi yang sangat terhormat dan diikuti, akhlaknya elok dan patut diteladani, secara subyektif saudara-saudara saya yang berkumpul itu mengangkat Habib Rizieq ya silahkan tidak perlu diperdebatkan," sambungnya. 


Namun, Dahnil mengatakan penyebutan tersebut harus disertai dengan akhlak yang tinggi. Dan juga tak merusak citra Islam dan Indonesia.

Dia memberi contoh warga Muhammadiyah yang menyebut Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir juga sebagai Imam Umat Indonesia. Sebab menurutnya hal itu sebagai subjetivitas.

"Namun warga Muhammadiyah tentu Imam-nya ya Pak KH Haedar Nashir, itu subjektif kami. Dan, tentu bisa juga menyebut KH Haedar Nashir sebagai Imam Umat Indonesia, namun tentu itu subjektifitas warga Muhammadiyah," tuturnya.


"Jadi, bagi saya ya digembirakan saja silakan siapa saja boleh dan bisa membuat klaim macam-macam, asal tetap menghadirkan akhlak yang tinggi dan tidak merusak citra umat Islam dan Indonesia secara keseluruhan," ungkap Dahnil. (bpp/dtk)

Sabtu, 23 September 2017

Inilah Korban-Korban PKI




KH Khoirun (93 th), KH Maruf Nawawi (84), KH Muhayat (98), dan Khoimun (95) adalah korban dan saksi mata kebiadaban PKI dalam peristiwa Madiun 1948. "Kiai dan santri menjadi target pembunuhan nomor satu bagi PKI. Sebelum 1948, banyak kader PKI yang disusupkan ke dalam beberapa pesantren," kata Khoirun saat saya wawancarai di kediamannya di Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Mei 2016 lalu.

Khoirun sempat dikubur oleh gerombolan PKI dan dikira sudah mati, ternyata masih hidup. Ia dianggap 'sakti' walau sudah mengalami siksaan berat termasuk dibacok dan ditembak. Beberapa pejabat penting di Jakarta kerap meminta semacam 'jimat' doa untuk keselamatan dirinya.

Tiga lainnya juga saya wawancarai di rumahnya pada pertengahan Mei 2016 lalu. Maruf Nawawi di Kecamatan Dagangan. Muhayat di Kecamatan Pilangkonceng. Khoimun di Kecamatan Wungu.

Selama sekitar satu pekan saya menelusuri jejak-jejak PKI dari Solo, Boyolali, Magetan, dan Madiun. Termasuk menemui empat bekas tahanan politik PKI dalam peristiwa 1965-1966, alumni Pulau Buru, Pulau Nusa Kambangan, penjara di Semarang, serta Solo. Mereka inginnya seperti apa? Saya juga tahu dari hasil pengakuan mereka yang usianya rata-rata 70 tahunan itu.

Lalu ada apa di Magetan? Ada sebuah pesantren yang menjadi target utama PKI, yakni Pesantren Takeran. Dikenal juga sebagai Pesantren Sabilil Mutaqien, pimpinan Kiai Imam Mursjud Mutaqien. Pada 17 September 1948 sejumlah tokoh PKI menjemput Kiai Mursjid dan beberapa rekannya dengan alasan mengajak diskusi tentang rencana pembentukan Republik Soviet Indonesia, ke suatu tempat.

"Mereka tidak pernah kembali ke pesantrennya lagi. Sebagian besar ditemukan sudah menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian," kata Maruf Nawawi.

Belum lagi di sumur tua Desa Soco, ditemukan 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Korbannya antara lain Bupati Magetan Sudibjo dan Muhammad Suhud, ayah mantan Ketua DPR/MPR Kharis Suhud.

Aksi pembantaian ini pun kemba;i terulang. Banyak yang tidak tahu bahwa setelah peristiwa G30S di Jakarta, ternyata ada peristiwa Kedung Kopi, Solo pada 22 Oktober 1965. Gerombolan PKI membunuh 23 demonstran anti-PKI di Kedung Kopi Solo. Rinciannya: 20 pemuda Islam dan tiga pemuda Katolik. (sumber: Republika)

Jumat, 11 Agustus 2017

Zulkifli Hasan Ajak Umat Islam Berjamaah Entaskan Kemiskinan




 Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, mengajak umat Islam bersatu menghadapi masalah kemiskinan dan pendidikan yang masih melanda umat Islam. Hal ini disampaikan Zulkifli dalam silaturahim bersama ormas Islam dan Masyarakat Aceh di Anjung Monmata, Komplek Rumah Dinas Gubernur Aceh, kemarin.

"Mari sudahi bicara soal perbedaan.  Masalah yang nyata sekarang adalah kondisi ummat Islam yang tertinggal dalam ekonomi dan pendidikan," ujarnya dalam keterangan tertulis kepada Media,  Rabu (9/8/2017).

Zulkifli menyebut sekarang waktunya ulama membimbing umat Islam agar maju, kaya, cerdas, dan peduli. "Ulama harus peduli pada masalah sosial," kata dia.
Dia mengajak masalah kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan umat dijadikan agenda prioritas kerja berjamaah sebagai umat Islam.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini percaya, menjalankan ajaran Islam mencakup dimensi kesalehan sosial yakni ikhtiar melawan kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan

"Pancasila sudah tegaskan sila ke-5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Amanat kesejahteraan harusnya untuk semua, bukan segelintir golongan saja," ujar Zulkifli. (rep)

Senin, 24 April 2017

Mahfud MD: Demokrasi Kompatible dengan Islam


Yogyakarta,- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Mahfud MD mengatakan, bahwa demokrasi itu kompatible dengan Islam. 

Menurut Mahfud MD, rangkaian fakta historis bahwa rakyat Indonesia bisa berdamai atau menerima hasil kontes politik yang diatur melalui mekanisme demokrasi itu membuktikan bahwa demokrasi adalah kompatibel (cocok dan harmonis) untuk dijadikan prinsip, sistem, dan mekanisme ketatanegaraan di Indonesia. 

"Bahkan setelah mengirim tim yang ditugasi memantau pemilu tahun 1999 di Indonesia, Clinton Center menyebut bahwa (jika menggunakan umat Islam Indonesia sebagai sampel), demokrasi itu kompatibel dengan Islam," tegas Mahfud MD, Sabtu 22 April 2017.

"Kita sendiri bisa menyimpulkan dari lembaga yang didirikan dan dipimpin oleh mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton itu bahwa kompatibelnya demokrasi dengan rakyat Indonesia sama dengan kompatibelnya demokrasi dengan umat Islam. Mengapa? " tambah Mahfud MD.

Menurutnya. karena rakyat Indonesia yang pemeluk Islamnya mencapai 87% dari sekitar 250 juta penduduk bisa menerima dan melaksanakan demokrasi dengan baik. Rakyat Indonesia dengan dukungan kuat umat Islam bisa sportif melaksanakan demokrasi di dalam situasi pluralitas yang sangat masif.

Oleh sebab itu, menurut Mahfud, umat Islam Indonesia tidak perlu mencari ideologi lain yang tidak kompatibel dengan demokrasi. Dengan demokrasi umat Islam, bersama umat-umat lain di Indonesia, bisa memperjuangkan aspirasinya dalam kehidupan bernegara tanpa merusak akidah. 

"Demokrasi sebagai produk ijtihad para ulama yang kemudian diterima sebagai kesepakatan luhur (mistsaqon ghaliedza) atau modus vivendi di Indonesia memberi jaminan seluruh bangsa untuk beribadah dan menyalurkan aspirasi politik secara bergotong-royong. Maka itu jangan pernah lelah atau bosan untuk mencintai dan merawat Indonesia." tegas Mahfud MD. (bpp)