Tampilkan postingan dengan label Haedar Nashir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haedar Nashir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Desember 2017

Ketum Muhammadiyah Ingatkan Ada Predator yang Merusak Bangsa



Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan berbagai masalah yang muncul di Indonesia disebabkan sekelompok orang yang ingin mencari keuntungan semata. Bahkan, dia menyebut orang-orang ini sebagai predator.

"Bangsa ini rusak karena predator. Ada yang kelihatan, ada yang tidak. Tapi daya rusaknya luar biasa," ujar Haedar saat memberikan sambutan pada Resepsi Milad ke-105 Muhammadiyah di Medan, Sumatra Utara (Sumut), Sabtu (2/12) malam.

Menurut Haedar, predator ini merupakan bagian dari mereka yang memiliki harta dan kekuasaan. Dengan bekal yang dimiliki, mereka memasuki berbagai lini kehidupan dan mengatur semua hal sehingga menguntungkan mereka.

"Kata Presiden Jokowi, satu persen orang menguasai 55 persen kekayaan Indonesia. Satu persen ini predatornya. Masuk ke politik, ekonomi, sosial, budaya, ormas. Semuanya. Dengan uang tak terbatas, memainkan peran apa saja," ujar dia.

Hadir pula dalam perhelatan itu, antara lain 25 pimpinan daerah Muhammadiyah di wilayah Sumut, Wakil Gubernur Sumut Nurhajizah Marpaung, dan sejumlah pejabat lain.(bpp/rep)

Kamis, 30 November 2017

Haedar Nashir Ajak Pemuda Muhammadiyah Wujudkan Integritas dan Keadilan Sosial



Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menilai, tema Tanwir II Pemuda Muhammadiyah ini harus benar-benar dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam rangka menuju masyarakat yang berkeadilan sosial menuju Indonesia berkemajuan.
Menurutnya Muhammadiyah memiliki Pemuda Muhammadiyah ini sampai ke pelosok-pelosok tanah air, hingga ke komunitas-komunitas nasional, sehingga ini bisa menjadi kekuatan nasional untuk gerakan membangun integritas dan produktivitas.
“Jadi kalau selama ini Muhammadiyah selalu  menyampaikan Islam Berkemajuan, itu salah satunya membangun generasi muda yang berintegritas  dan punya punya kemampuan produktif,” kata Haedar saat memberi Amanat pada Pembukaan Tanwir 2 Pemuda Muhammadiyah, Senin (27/11).
Dia berharap ada gerakan  yang terus oleh pemuda membina anak-anak muda yang potensial. “Kami dari Muhammadiyah tidak pernah kehilangan opitimisme tentang bangsa ini, kita punya kekayaan alam yang luar biasa punya potensi sumber daya manusia yang luar biasa, tinggal nantinya ada gerakan khususnya dari kaum muda membangun karakter bangsa ini yang berintegritas dan kemampuan berproduktivitas,” imbau Haedar kepada puluhan ribu warga Muhammadiyah se Kota Palangka Raya.
Hadir sejumlah tokoh seperti Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Wakil Gubernur Kalteng Habib H. Said Ismail, Kapolda Kalteng Brigjen Anang Revandoko, Para pimpinan Muhammadiyah dan organisasi otonom, serta warga Muhammadiyah se Kalimantan Tengah (bpp/moi)

Minggu, 26 November 2017

Agama Jadi Tersangka



Oleh: Haedar Nashir

Ada apa dengan agama? Urusan radikalisme, terorisme, intoleransi, dan kekerasan banyak dikaitkan dengan agama dan umat beragama. Agama malah disebut produk impor layaknya barang dagangan.

Aura negatif keagamaan itu tidak jarang tertuju pada Islam. Ibnu Taimiyah secara ceroboh dimasukkan sebagai salah satu tokoh sumber paham radikalisme. Padahal, dialah yang menyatakan pemimpin non-Islam yang adil lebih baik ketimbang pemimpin muslim nan zalim. Pemikiran pembaruan ulama besar dari Syiria ini malah melampau zamannya.

Ironisnya, ada sebagian golongan agama membeli isu radikalisme itu tanpa sikap kritis. Dalil dan fatwa keagamaan tentang radikalisme pun serta-merta dikeluarkan. Padahal, ranah lain tak kurang bermasalah dan menjadi sumber masalah kalau kita angkat secara objektif ke ruang publik. Radikalisme itu milik siapa saja tanpa pandang bulu. Sejarah mengenal radikalisme petani sebagai gerakan perlawanan.

Tanyakan pada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, kenapa dan atas nama apa mereka menyandera dan berbuat teror terhadap orang-orang tak bersalah. Kelompok ini pun tidak disebut teroris dan radikalis. Tentu selalu ada alasan untuk pembenaran, tetapi tampak sekali bias parameter yang dipakai ketika mengaitkannya dengan agama.

Agama dan umat beragama seolah jadi terdakwa. Agama dianggap sumber radikalisme dan benih konflik yang membelah warga bangsa. Hingga di negeri ini mulai tumbuh pandangan kuat, janganlah membawa-bawa agama di ruang publik. Simpanlah agama di ranah domestik.

Sementara ranah politik, etnik, kedaerah, dan segala atribut lain ketika bermasalah dianggap biasa dan bukan sumber kegaduhan. Padahal, karena soal politik rakyat terbelah, gedung dibakar, konflik mengeras, dan kehidupan gaduh. Orang mengelompok dengan fanatik dalam referensi etnik atau kedaerahan tak disebut eksklusif dan intoleran. Semuanya keliru, tetapi tidak membuahkan stigma dengan aura buruk-muka!

Pandangan sekular

Kita umat beragama sungguh menolak segala bentuk radikalisme atas nama apapun, di manapun, dan kapanpun. Lebih-lebih yang memproduksi kekerasan dan segala bentuk tindakan fasad fil-Ardi. Sejengkal apapun tak ada ruang untuk perbuatan merusak di muka bumi, Hatta atas nama agama, kitab suci, nabi, dan Tuhan.

Kita akui juga ada elemen umat beragama karena bias-pemahaman dan bias-perilaku keagamaan menjadikan agama pendorong tindakan-tindakan ekstrem seperti sikap radikal, intoleran, kebencian, aksi sweeping, dan sejenisnya. Kita juga paham atas sorotan tajam manakala agama dipakai sebagai pendorong hal-hal yang beraura garang dan permusuhan karena secara normatif dan profetik agama dan umat beragama memang membawa misi Ilahi yang suci untuk membangun kehidupan serba bermoral dan rahmat bagi semesta alam.

Jadi, tidak terlalu keliru kalau agama dan umat beragama disoroti tajam ketika masuk pada ranah yang dikategorikan radikal dan sebagainya. Umat beragama tentu penting untuk bermuhasabah diri agar tidak terjebak pada keberagamaan yang bermasalah seperti itu.

Dengan demikian fungsi agama dan peran pemeluk agama tetap kuat sebagai penyebar misi damai, toleran, inklusif, dan segala kebajikan yang utama. Jadikan agama sebagai rujukan nilai utama kebajikan peradaban di negeri tercinta ini, bukan sebaliknya sebagai pemicu perilaku keras dan konflik atasannya Tuhan.

Namun, penting juga pandangan yang adil dan objektif dalam melihat posisi agama dan umat beragama di negeri ini, yang nilai positifnya jauh lebih luas dan menjadi bingkai moral utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu arus utama umat beragama di negeri ini pun sungguh moderat, damai, toleran, dan berkemajuan. Agama dan umat beragama harus dilihat secara komprehensif, tidak parsial dengan nada sarat dakwaan. Tidak perlu juga dipolitisisasi secara ekstrem, seolah agama dan umat beragama sebagai sumber masalah.

Tampaknya, terdapat kecenderungan yang menguat di sebagian elite, pakar, dan warga bangsa tentang alam pikiran sekuler yang bersenyawa dengan proses demokratisasi dan hak asasi manusia yang liberal sebagaimana pandangan hidup masyarakat Barat yang berbasis pada humanisme-sekuler. Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang agama dan kepercayaan yang kontroversial dapat dibaca dalam aura alam pikir humanisme-sekuler itu. Pandangan yang demikian tentu tidak cocok dengan jati diri bangsa Indonesia yang beragama kuat dan berideologi Pancasila.

Peter L Berger pernah menengarai bahwa masyarakat moderen tidak begitu hirau dengan persoalan-persoalan metafisik, tentang hakikat kehidupan, dari mana manusia berasal dan untuk apa tujuan hidup di dunia, serta makna-makna kehidupan lainnya. Hal itu karena proses rasionalisasi atau lebih tepatnya sekularisasi begitu kuat, sehingga hal-hal yang mendasar seperti itu seolah wilayah abstrak dan tidak empirik.

Padahal kenyataan masyarakat modern justru memerlukan dimensi yang melampaui dunia rasional itu, yang hanya dapat ditemukan dalam agama. Agama, tulis Berger, merupakan kanopi suci (the sacred canopy) yang dapat membebaskan manusia dari chaos atau segala bentuk kekacauan hidup. Hatta dalam masyarakat dan dunia yang sekuler, menurut Bryan Wilson, secara sosiologis agama masih tetap diperlukan dalam memberi makna luhur bagi kehidupan umat manusia.

Maka menjadi ironis manakala di Indonesia yang penduduknya beragama dan ber-Pancasila, agama dipandang sebagai sumber masalah atau malah menjadi terdakwa untuk segala hal buruk seperti radikalisme, terorisme, intoleran, dan kekerasan. Lebih-lebih karena prinsip demokrasi dan hak asasi manusia yang serbaliberal, agama mulai dimarjinalkan dan malah harus disamasebangunkan dengan bentuk-bentuk kepercayaan tertentu yang sama sekali berbeda dari agama. Agama dianggap skrup kecil dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Fungsi agama

Benarkah agama sumber masalah? Agama merupakan sistem keyakinan universal yang berdasarkan wahyu Illahi membimbing manusia menuju jalan hidup yang benar untuk meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Agama, menurut Arseln van Feuerbach merupakan kebutuhan hidup manusia yang ideal. Ekspresi orang beragama dan bertuhan dapat beragam tetapi manusia sungguh tidak dapat hidup tanpa Tuhan dan tanpa agama, meski ada manusia yang ateis dan agnostik.

Agama mengajarkan manusia hidup saleh untuk diri sendiri, sesama, dan lingkungannya sehingga kehadiran agama justru menjadi rahmatan lil-‘alamin. Tidak ada agama apapun yang mengajarkan keburukan, semuanya berisi kebajikan yang utama. Agama sebagai refleksi iman tidak hanya terbukti dalam ucapan keyakinan dan iman saja, tetapi agama juga merefleksikan sejauh mana iman itu diungkapkan dalam kehidupan dunia ini (Mukti Ali, 1982).

Agama menurut tokoh Perbandingan Agama dan mantan Menteri Agama itu berfungsi sebagai faktor transendensi, sublimasi, profetik, liberasi, humanisasi, dan kritik atas kehidupan manusia. Dengan agama manusia menjadi insan relijius, shaleh, welas asih, sabar, peduli, mau berbagi, rendah hati, dan berbuat serba kebajikan yang utama. Agama mengajarkan manusia menjadi hamba Allah yang beriman sekaligus beramal shaleh bagi kebaikan semesta. Rasul bahkan diutus untuk menyempurnakan akhlak utama manusia serta menyebar misi rahmatan lil-‘alamin untuk kemajuan peradaban dunia.

Umat Islam selaku mayoritas di negeri ini selain menjadikan agamanya sebagai pedoman kehidupan yang utama dalam keberagamaan, pada saat yang sama menjadikan Islam berfungsi bagi kehidupan berbangsa. Apalah jadinya bangsa ini tanpa Islam dan umat Islam, bersama dengan agama dan pemeluk agama lain. Setidaknya bangsa Indonesia menjadi relijius dan berkeadaban, sesuatu yang mendasar bagi kehidupan suatu bangsa. Bacalah secara jernih dan objektif pengaruh positif agama dalam kehidupan bangsa Indonesia agar tidak terjebak pada stigma atau pandangan negatif dan menjadikannya seolah terdakwa atas hal-hal buruk di negeri ini.

Dalam konteks kesatuan dan persatuan nasional, peranan umat Islam di negeri ini sangatlah besar. Menurut antropolog kenamaan Koentjaraningrat, Islam merupakan kekuatan integrasi nasional dalam pembentukan kebudayaan Indonesia. Menurut George Kahin (1995), salah satu faktor terpenting yang mendukung pertumbuhan suatu nasionalisme terpadu di Indonesia adalah tingginya derajat homogenitas agama yakni lebih 90 persen penduduknya beragama Islam. Agama Islam bukan hanya hanya suatu ikatan biasa, ini benar-benar merupakan semacam simbol kelompok atau in-group untuk melawan penggangu asing dan penindas suatu agama yang berbeda.

Dalam pejuangan melawan penjajahan sungguh besar pengorbanan dan perjuangan umat Islam. Pengaruh, peranan, dan kiprah umat Islam sungguh tak terhitung. Kekuatan Islam seperti Muhammadiyah bahkan menjadikan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah. Nahdatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad. Segenap pergerakan Islam menggelorakan cinta Tanah Air sebagai bagian dari jihad fi-sabilillah. Semuanya berjuang untuk Indonesia yang dicintai dan dibelanya dengan sepenuh jiwa-raga dengan ruh agama!
(sumber: republika.co,id)

Senin, 30 Oktober 2017

MENGUBAH MINDA




Oleh : Haedar Nashir

Apa yang terjadi manakala sehari-hari pikiran orang Indonesia dijejali dengan isu-isu keras yang menegangkan urat syaraf? Sebutlah kosakata radikal, ekstremis, teroris, intoleran, dan beragam diksi negatif lain yang menyesakkan rongga dada. Lebih-lebih bila produksi ujaran-ujaran seram itu setiap hari keluar dari lisan ulama dan tokoh agama dengan nada ingar-bingar.

Para pejabat negeri di sejumlah tempat pun tidak kalah fasih mendaur-ulang kalimat-kalimat yang sama menegangkan. Awas anti-Pancasila, anti-kebhinekaan, anti-NKRI, dan segala anti-lainnya yang mengingatkan kita pada pola pikir rezim Orde Baru di masa lalu. Indonesia seperti benar-benar di tubir jurang, nyaris seakan tidak ada kekuatan dari dalam (inner dynamic) yang dapat menjadi penyangga tegaknya Indonesia.

Sementara pada saat yang sama, pada sebagian warga bangsa mulai muncul tindakan-tindakan main hakim sendiri terhadap mereka yang berbeda paham dan golongan, hatta kepada sesama seagama. Menolak berdirinya masjid di lingkungan sesama umat Islam, malah ada yang tega membakar. Mengusir warga seiman hanya karena beda paham dan difatwa sesat. Padahal retorika ke ruang publik menyuarakan agama damai, moderat, dan rahmatan lil-'alamin.

Lantas di mana pengaruh dari ujaran kewaspadaan yang mengharu-biru itu pengaruhnya kepada umat? Nuansa sosial yang serba paradoks itu perlu menjadi bahan renungan yang jernih bagi para penyebar dakwah, elite negeri, dan tokoh wibawa di manapun berada. Semakin kencang beragam alarm dan peringatan tentang hal-hal negatif di negeri ini, keadaan di masyarakat justru tak berbading lurus. Lain di pikiran elite dan para pemimpin, beda pula yang bertumbuh di warga masyarakat.

Pola pikir ekstrem ternyata tak mampu mengeliminasi ekstrimitas. Deradikalisme tak mampu membendung radikalisme. Di sini mungkin cara pikir kita perlu diubah atau diperbarui. Produksilah diksi-diksi kegembiraan dan kisah-kisah sukses anak-anak bangsa di seluruh antero tanah air. Dalam bahasa Melayu, mengubah minda
atau state of mind. Bahwa terlalu berlebihan memproduksi hal-hal negatif, malah kenegatifan itu yang terjadi di masyarakat. Boleh jadi bukan sekadar materi isu yang perlu dikaji ulang, tetapi intensitas dan takarannya yang perlu dievaluasi agar tak berlebihan, yang mengabaikan kita pada nalar sehat yang wajar dan proporsional.

Sikap tengahan

Siapapun tentu bersetuju seratus prosen bahwa radikalisme apapun, lebih-lebih manakala membuahkan tindakan-tindakan kekerasan dan anarki, merupakan hal buruk yang tidak boleh ditoleransi dan berkembang di masyarakat. Kenyataan di negeri mana pun bahwa pola pikir, sikap, dan perilaku radikal dalam makna ekstrem dan melahirkan tindakan-tindakan berlebihan sering terjadi. Tidak ada bangsa dan masyarakat yang benar-benar bebas dari radikalisme dan ekstrimisme dalam beragam bentuk, bukan melulu yang bernada keagamaan. Semua harus dicegah, ditindak, dan dihilangkan.

Namun menghadapi hal-hal yang serba ekstrem itu tidaklah mudah dianalisis dan disikapi dengan cara instan dan gampangan. Tidak pula dengan melakukan generalisasi yang membuat seluruh area dan persoalan seolah diliputi oleh ekstrimisme dan radikalisme. Seolah tiada ruang longgar dari kedua persoalan tersebut, meskipun memang kenyataannya ada dan faktual. Bagaimana pun perlu blocking-area agar tetap terbuka luas rongga-rongga kehidupan kebangsaan di negeri ini yang moderat, normal, dan memancarkan kebajikan kolektif.

Demikian pula dengan persoalan bangsa dan negara. Bangsa dan negara di mana pun tidak bebas dari masalah. Persoalan keagamaan, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, sosial, ekonomi, lebih-lebih politik. Kadar, jenis, dan intensitas persoalan satu sama lain tentu berbeda. Setiap pemerintahan berganti selalu ada persoalan, baik persoalan lama maupun baru. Bangsa yang besar bukan tanpa persoalan, tetapi mampu menyikapi dan menyelesaikan persoalan-persoalannya secara tepat dan sesuai kadarnya. Apakah perlu semua persoalan digeneralisasi kadarnya?

Menjadi penting menempatkan setiap persoalan pada tempatnya dan tidak terjadi generalisasi dan dramatisasi sehingga keadaan bangsa dan negeri ini seakan gelap gulita dan kehilangan jalan terang. Tidak pula melakukan simplifikasi sehingga masalah besar menjadi kecil, sebaliknya yang kecil dibesar-besarkan. Apalagi jika masalah dikomoditikan atau diperjualbelikan, sehingga terjadi pengawetan dan bahkan kapitalisasi masalah demi meraih keuntungan uang, materi, dan kepentingan-kepentingan sesaat.

Agama mengajarkan
khair al-'umur auwsathuha, bahwa sebaik-baik urusan ialah yang tengahan. Masalah ditempatkan pada proporsinya, itulah sikap adil dalam memposisikan masalah. Mengurangi atau melebih-lebihkan masalah sama ekstremnya. Menyikapi hal radikal dan ekstrem dengan cara pandang, sikap, dan tindakan ekstrem sama dan sebangun dengan ekstrimitas itu sendiri. Jika ingin moderat dalam menghadapi masalah maka tunjukkan kemoderatan yang semestinya, itulah yang disebut moderasi yang diajarkan agama.

Kadang atau sering terjadi paradoks. Kritik dianggap menghujat, karena budaya menjilat meluas. Orang dengan mudah sering mengeritik pihak lain secara lantang, namun sekali balik dikiritik pendukungnya marah dan melempar ancaman. Tidak suka di kanan tetapi mengambil posisi di kiri, begitu sebaliknya. Ingin di tengah tetapi kekanan-kananan atau kekiri-kirian. Di tengah pun menjadi sering ekstrem, sehingga menjelma dalam wajah ekstrim tengah. Kanan, kiri, dan tengah adalah garis posisi yang tidak bisa absolut, ukurannya adalah kontekstualitas, objektivitas, rasionalitas, dan adil.

Nalar sehat dan jernih menjadi sulit memperoleh ruang longgar karena banyak pihak terbiasa dengan pola pikir tunggal, linier, hitam putih, dan ekstrem. Suka dan tidak suka mekar, sehingga sikap adil dalam melihat dan memposisikan masalah pun menjadi hilang. Padahal Allah mengajarkan insan beriman untuk berbuat adil hatta terhadap mereka yang kita tidak suka (QS Al-Mâidah: 8). Sikap adil itu memiliki irisan dengan perilaku tengahan dan kebajikan (QS An-Nisâ: 135; An-Nahl: 90). Sedangkan fondasi adil itu kebenaran, demikian menurut Al-Quran. Anda dapat berbuat adil dan tengahan jika anda memiliki patokan kebenaran yang autentik, bukan yang semu dan dibuat-buat!

Banyak kepentingan

Kehidupan berbangsa di negeri ini terlalu sarat beban. Satu diantaranya banyaknya lalulintas kepentingan yang sedemikian bebas, sebebas proses politik dan ekonomi yang menjadikan Indonesia serba liberal. Politik transaksi menjadi pemandangan umum, sehingga dalam bahasa sosilologi terjadilah komodifikasi yang massif, semua hal ada harganya untuk diperjualbelikan. Agama pun, termasuk fatwa, terbuka kemungkinan dapat menjadi lahan komoditi paling menarik.

Akibatnya tidak sedikit masalah menjadi awet dan malah cenderung diproduksi dan direproduksi karena makin lama kian mahal harganya untuk dikomodifikasikan di pasaran. Radikalisme, ekstremisme, dan apapun yang menjadi masalah menjadi komoditi yang laris di ruang publik, sehingga kian lama bukan makin kecil dan hilang tetapi menjadi mekar. Ada yang genuin, tetapi tidak sedikit yang menjadi proyek dan diproyekkan. Setiap jengkal ada proposalnya, sehingga terjadi perluasan dan pengembangbiakkan masalah.

Dalam keadaan yang serbatransaksional dan komodifikasi itu maka ruang kewajaran pun menjadi makin menyempit. Normalitas dikalahkan abnormalitas. Masalah tidak dapat dianalisis secara jernih karena analisis dan solusinya sudah dipatok harus tunggal sesuai dengan para pemangku kepentingan dan yang saling berkepentingan. Mereka yang tidak berkepentingan meskipun memiliki pikiran dan tawaran yang baik tidak akan terakomodasi, bahkan dapat dianggap sebagai pengganggu karena berada di luar pasar dan program komoditas. Agar sah melakukan tindakan sepihak terhadap orang lain diproduksi istilah-istilah yang stigmatik dan stereotipe keagamaan tertentu, sehingga pihak yang tak bersalah pun bisa menjadi korban.

Tarikan kepentingan diri dan kelompok semakin tingggi dalam banyak urusan kebangsaan sering menjadi sandera bagi bangsa ini untuk keluar dari masalah, malah tidak jarang terjebak pada lingkaran setan yang tak berujung pangkal. Pemberantasan korupsi sering kontroversi, sehingga para koruptor makin leluasa beroperasi dan berkamuflase diri. Proyek reklamasi makin menjadi polemik, karena di dalamnya sarat kepentingan. Para mafia apapun makin leluasa berdiaspora di negeri ini, karena semuanya dapat ditransaksikan dan diperjualbelikan. Adakah rakyat memperoleh keuntungan di balik semua itu? Sama sekali tidak!

Karenanya diperlukan pola pikir baru yang bersih dari lalulintas kepentingan dan beban komodifikasi, sehingga dalam menghadapi dan mencari solusi atas masalah-masalah di tubuh bangsa ini dapat dikonstruksi secara lebih tepat, benar, dan jernih sehingga terbuka jalan keluar. Jangan sampai gali lobang tutup lobang serta keluar dari satu masalah masuk ke masalah lain yang sama peliknya atau malah berujung di jalan buntu. Semua pihak mesti berjiwa besar dan terbuka dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah-masalah bangsa. Belajarlah dari jalan rumit persoalan Perppu dan UU Ormas, yang akhirnya menjadi masalalah krusial yang membelah bangsa karena sejak awal niat dan pola pikirnya serba apriori.

Jangan diikuti dan dimanjakan pola pikir asal loyal dan asal dukung tanpa tanggungjawab yang besar untuk masa depan bangsa. Apalagi loyalitas kebangsaan yang naif itu disertai tukar-menukar kepentingan sesaat. Sama pentingnya siapapun warga dan kelompok bangsa jangan asal tidak senang secara apriori sehingga di negeri ini seolah tak ada noktah-noktah kebajikan. Saling berdiri dalam oposisi biner yang terus berhadapan secara ekstrem dalam berbangsa dan menyikap masalah-masalah kebangsaan sangatlah merugikan Indonesia. Ujaran-ujaran dan sikap-tindak ugal-ugalan hatta yang mengatasnamakan pandangan keagamaaan apapun saatnya dihentikan agar tak memercikkan api permusuhan, yang sekali ditebarkan sangat sulit untuk dipadamkan.

Jika Indonesia saat ini dan ke depan ingin bangkit menjadi bangsa dan negara besar maka elite dan rakyatnya niscaya berjiwa besar, berpikir cerdas, dan melakukan langkah-langkah yang konstruktif berkemajuan. Bukan menjadi sosok-sosok yang kerdil jiwa, pikiran, dan tindakan hingga menjadikan negeri dan bangsa ini terbonsai dalam kerangkeng yang penuh onak dan duri.

Ubah minda dari pola pikir serba-negatif dan sarat kepentingan dengan mengkonsumsi dan memproduksi hal-hal yang positif-konstruktif disertai visi optimisme dan jiwa kenegarawanan yang melampaui. Jadilah elite dan warga bangsa yang akil-balig, seraya mengakhiri masa kekanak-kanakkan agar Indonesia makin dewasa. Ubahlah minda dari kekerdilan dan kenaifan dengan aura ihsan, kearifan, kecerdasan, dan segala jejak berkemajuan! (sumber: Republika)

Minggu, 01 Oktober 2017

Inilah Pesan Haedar Nashir di Hari Kesaktian Pancasila




Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan agar masyarakat Indonesia dalam memaknai hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap 1 Oktober tidak hanya berujung pada seremoni semata.

“Pancasila harus menjadi dasar negara yang dapat ditransformasikan dalam kehidupan bernegara,” ucap Haedar, Sabtu (30/9).

Selain itu, Haedar juga mengatakan bahwa Pancasila harus dipraktekkan oleh para pejabat negara dan juga warga negara Indonesia.

“Pancasila jangan hanya sekedar disakti-saktikan, namun juga harus menjadi landasan nilai dalam mengimplementasikan kehidupan bernegara,” tegas Haedar.

Haedar mengatakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, seperti nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, nilai kerakyatan yang khidmat dan musyawarah, serta nilai keadilan, memiliki makna yang cukup penting dalam kehidupan bernegara.
Mengutip pesan Bung Karno, rakyat Indonesia jangan pernah melupakan sejarah. Rakyat Indonesia harus belajar dari pengalaman sejarah, khususnya dalam peristiwa G 30 S PKI. Yang mana pada peristiwa G30 SPKI tersebut, komunis telah beberapa kali melakukan pemberontakan terhadap keutuhan bangsa Indonesia, dan hal itu jelas bertentangan dan melawan nilai-nilai leluhur yang ada di dasar negara Indonesia.
Muhammadiyah memandang pentingnya penguatan Pancasila sebagai Dasar Negara dan sumber nilai dan etik yang memandu dan mempersatukan bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional Indonesia, yang sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.
Terlepas dari hal itu, Haedar juga berpesan kepada generasi muda untuk tidak memotong arus nilai dalam beragama, nilai dasar Pancasila, dan juga budaya leluhur.
“Bagi generasi baru, meskipun hidup di era baru, namun tetap tidak melupakan fundamental agama, nilai dasar pancasila, maupun budaya leluhur dalam berperilaku dan berinteraksi sebagai warga bangsa,” pungkas Haedar. (moi)

Jumat, 22 September 2017

SIMfONI NEGERI BERKEMAJUAN





Oleh Haedar Nashir

Pada negara kota Plato berfilsafat tentang negara
Al-Farabi menggagas konsep Negara Utama
Segenap peradaban seantero buana
Menorehkan negeri cita-cita ke jagat galaktika

Di sebuah negeri kepulauan nan elok bak zamrut di khatulistiwa
Dengan ribuan etnik dan suku bangsa yang hidup berdiaspora
Allah turunkan segala anugerah-Nya yang tak berbilang
Kekayaan alam yang tak pernah habis untuk lebih tujuh turunan

Setelah 72 tahun merdeka menyeruak sederet kalimat tanya
Adakah negeri terindah ini menjelma menjadi suatu idaman
Atau sekadar serpihan kemajuan di atas tumpukkan masalah dan derita
Nan membuat rakyat resah dalam nada pasrah dan hilang harapan

Di tangan elit dan warga bangsa kini nasib Indonesia tergenggam
Tumbuhkan  jiwa, pikiran, dan perangai bernegara dengan aura cinta
Agar Indonesia tak digadaikan dan tetap menjadi negeri harapan
Bagi semua insan dan golongan yang tak kenal lelah menaruh asa

Ayo, bangkitlah kaum muda dari segala angkatan
Menjadi sosok pendobrak dan pembawa kemajuan
Menanam benih inovasi dan pencerahan
Menuju Indonesia berkemajuan

Sejarah menoreh risalah kaum muda
Ashabul Kahfi sosok Al-Fata  melawan rezim angkara
Muhammad muda dikenal Al-Amin terpercaya
Dan Ahmad Dahlan menyemai benih tajdid di usia muda

Tatkala hijrah Muhammad melintas rintangan dengan jiwa kesatria
Ia tinggalkan Makkah tercinta demi risalah Iqra pembuka cakrawala
Bersama kaum Anshar dan Muhajirin menjalin ikatan saudara
Membangun Yatsrib menjadi Madinah Kota Peradaban Utama

Kini lima belas abad pasca kerisalahan Islam nan gemilang
Umat muslim di penjuru buana menggelorakan syiar hijrah
Kaum muda nan belia bergelora mengemban risalah dakwah
Bangun peradaban berkemajuan nan cerah mencerahkan

Jadikan hijrah tonggak baru perubahan
Mengubah perangai-perangai kerdil menjadi mulia
Mengasah nalar cerdas berilmu melintas cakrawala
Menggoreskan tinta emas tuk Indonesia berkemajuan




Di negeri berkemajuan
Agama mengajarkan keadaban dan pencerahan
Anti kebencian, kekerasan, dusta, dan permusuhan
Menggelorakan hidup damai dan saling mencerdaskan

Di negeri berkemajuan
Laki-laki dan perempuan saling memuliakan
Meski peran sama atau berbeda
Tiada diskriminasi dan perendahan martabat sesama

Wahai kaum muda berintegritas dan cerdas cendekia
Jangan biarkan mafioso dan tangan-tangan kotor menjarah Indonesia
Juga pada sebagian elite dan politisi yang menyandera bangsanya
Demi masa depan Indonesia milik semua

Di Sportorium UMY kampus genre muda mendunia
Warga Persyarikatan dan angkatan muda menghadirkan asa
Dalam sentuhan simfoni Dwiki Dharmawan nan lembut mencerahkan
Bagi Negeri Indonesia berkemajuan

Nasrun min Allah wa Fatun Qarib

Yogyakarta, 1 Muharram 1949 Hijriyah - 21 September 2017 Miladiah⁠⁠⁠⁠

Senin, 11 September 2017

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Menyesalkan Pembubaran Daurah Tahfidz di Karimunjawa



Sehubungan dengan terjadinya pembubaran kegiatan Daurah Tahfidzul Quran yang terjadi di Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah oleh sekelompok orang yang mewakili organisasi kemasyarakatan tertentu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, sebagaimana diberitakan oleh laman resmi Muhammadiyah, menyesalkan tindakan tersebut.
 "Tindakan main hakim sendiri seperti itu apapun alasannya tidak boleh dilakukan oleh masyarakat atau organisasi kemasyarakatan", ujar Haedar Nashir ketika dihubungi redaksi muhammadiyah.id pada Ahad (10/9).
Indonesia menurut Haedar adalah negara hukum dan kegiatan keagamaan maupun kegiatan lain dalam masyarakat mendapat jaminan konstitusional. Lebih-lebih untuk suatu kegiatan keagamaan yang luhur guna memasyarakatkan bacaan dan pemahaman Al-Quran sebagai Kitab Suci umat Islam, yang dijamin secara tegas pada pasal 29 UUD 1945. 
“Kalaupun ada kegiatan warga negara atau masyarakat atau organisasi masyarakat yang dianggap melanggar secara administratif  maka hanya aparat penegak hukum atau pemerintah yang berhak melakukan tindakan penertiban, hal itupun harus benar-benar berpedoman pada hukum serta peraturan yang berlaku secara objektif, tidak asal melakukan tindakan penertiban secara sepihak dan diskriminatif,” ucap Haedar.
Apalagi jika menyangkut kegiatan keagamaan. Perbedaan paham agama tidak boleh menjadi alasan melakukan tindakan main hakim sendiri.
"Jangan sampai isu radikal, radikalisme, deradikalisme, deradikalisasi, terorisme, paham keagamaan tertentu, hingga  isu menjaga kebhinekaan, NKRI, Pancasila, dan lain sebagainya dijadikan alat pemukul oleh siapapun atau organisasi apapun yang berbeda pandangan dengan cara main hakim sendiri,” tegas Haedar.
Kalau ada organisasi kemasyarakatan atau kelompok keagamaan manapun mengklaim diri antikekerasan dan antiradikalisme, maka jangan melakukan kekerasan dan tindakan radikal terhadap pihak lain atasnama apapun.
“Manakala hak tersebut dilakukan sama dengan prokekerasan dan proradikalisme dalam bentuk lain. Buktikan dalam tindakan nyata kalau ormas Islam di mana pun berada  benar-benar penyebar kedamaian, toleransi, moderat,  ukhuwah, akhlak karimah, dan rahmatan lil-'alamin,” jelas Haedar.
Haedar melanjutkan, apa jadinya Indonesia sebagai negara hukum dan demokrasi manakala ada sekelompok orang atau organisasi kemasyarakatan dibiarkan bebas melakukan tindakan-tindakan main hakim sendiri.
Apalagi manakala tindakan sewenang-wenang itu terjadi kerena perbedaan paham atau kepentingan. Kalaupun ada isu tidak ada IMB (Izin mendirikan Bangunan) pada tempat yang digunakan, maka soal adminsitratif tersebut tidak dapat dijadikan alasan main hakim sendiri.
Kalaupun aparat negara melakukan penertiban soal IMB, maka harus diberlakukan umum terhadap tempat-tempat lain yang tidak memiliki IMB, serta jangan tebang pilih. Aparat penegak hukum pun dalam melakukan tindakan tidak boleh bertentangan dengan hukum yang berlaku, lebih-lebih manakala dilakukan pihak swasta atau masyarakat sipil yang memang tidak memiliki hak dan kewenangan.
Karenanya demi tertibnya negara hukum, tegaknya demokrasi dan hak asasi manusia, serta keharmonisan antarmasyarakat dan kedamaian kehidupan keagamaan di Indonesia maka hentikan segala bentuk tindakan main hakim sendiri di negeri ini.
“Apalagi manakala tindakan yang berlawanan dengan hukum tersebut dilakukan oleh organisasi kemasyarakatan, yang memang tidak diberikan otoritas oleh negara untuk melakukan tindakan hukum dan penertiban.  Pihak kepolisian atau pemerintah tidak boleh menutup mata dan membiarkan tindakan main hakim itu berlansung, harus bertindak tegas dan tidak memihak agar ada jaminan ketertiban dan keamanan di masyarakat,” ucap Haedar.
Jika selama ini ada pihak-pihak keberatan terhadap organisasi keagamaan yang dianggap radikal karena suka melakukan tindakan penertiban terhadap tempat-tempat maksiat, bahkan ada organisasi kemasyarakatan yang telah dibubarkan pemerintah karena dianggap bertentangan dengan Pancasila padahal tidak pernah melakukan tindakan kekerasan, maka aparat penegak hukum dan pemerintah tidak boleh membiarkan ada organisasi kemasyarakatan apapun yang mengambil alih fungsi penegakkan hukum dan main hakim sendiri.
“Jika tindakan main hakim sendiri itu dibiarkan dan fungsi penegakan hukum diambil alih oleh organisasi kemasyarakatan maka akan terjadi potenti konflik sosial di masyarakat, sekaligus ancaman terhadap keberadaan negara hukum, demokrasi, dan hak asasi manusia di Republik ini,” ucap Haedar.
Diakhir Haedar mengatakan, kalau pun ada di kalangan umat Islam berpaham Salafi atau Wahabi, apa hal itu dilarang oleh konstitusi?
“Kalau tentang tindakan kekerasan bisa dilakukan oleh siapapun, bahkan oleh mereka yang selama ini menyuarakan toleransi dan antikekerasan, yang disebut dengan paradoks perilaku sosial dan keagamaan. Mengaku toleran tetapi karena merasa mayoritas justru bertindak tidak toleran,” pungkas Haedar. (bpp/moi)

Selasa, 29 Agustus 2017

MEMAKNAI ESENSI IDUL ADHA, BERHAJI DAN BERQURBAN





Oleh: Dr H Haedar Nashir, MSi

أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ
اَلْحَمْدُا ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ  يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُهَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ وَلآنَبِىَ بَعْدَهُ. اُوْصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَاِيآيَ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .  اَمَا بَعْدُ
وَقآَلَ اَللهُ تَعَآلَي فِى ا لْقُرْآنِ الْكَرِيم: إِنَّآ أَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
اَلله ُاَكْبَرُ, اَلله اَكْبَرُ, اَلله ُ اَكْبَرُ.  3xاللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ. اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرَا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرَا وَسُبْحَان للهِ بُكْرَةَ وَاَصِيْلاَ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ.

Alhamdulillah,  segala puji dan syukur kita persembahkan ke haribaan Allah Yang Maha Rahman dan Rahim atas segala  limpahan nikmat-Nya yang tak terbilang. Nikmat Allah itu sungguh luas melampaui samudra, lebih-lebih nikmat iman dan Islam sebagai permata paling berharga dalam hidup kita selaku Mukmin.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Rasul akhir zaman yang menjadi uswah hasanah seluruh umat manusia. Dialah Nabi  pembangun peradaban mulia dan penyebar risalah Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Pagi hari ini, kita kaum muslimin di seluruh persada Tanah Air, dengan khusyuk dan khidmat menunaikan shalat Idul Adha, mengikuti Sunnah Nabi. Semua bertaqarrub kepada Allah dengan kepasrahan diri yang tinggi guna meraih ridla dan karunia-Nya. Kita kumandangkan takbir, tahmid, dan tasbih sebagai wujud kesaksian selaku hamba yang dhaif atas Kemahaagungan, Kemahaterpujian, dan Kemahasucian Allah sebagai Khaliq Yang Maha Segalanya.
Pada Hari Raya ini, kaum muslimin juga menunaikan ibadah qurban, menaati perintah Allah dan mengikuti jejak Nabi Ibrahim, sebagai wujud kesyukuran akan nikmat Allah yang tak terhinga sebagaimana  firman-Nya dalam Al-Quran:
إِنَّآ أَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS Al-Kautsar: 1-3).

Semua ibadah yang kita tunaikan itu tiada lain untuk menjadikan diri kita sebagai insan Muslim, Mukmin, dan Muttaqin yang sejati guna menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dalam rengkuhan ridla dan karunia-Nya.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Ketika umat Islam di negeri ini menjalankan shalat Idul Adha dan berqurban, saudara-saudara kita kaum muslim sedunia sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci. Menunaikan shalat Idul Adha, berqurban, dan berhaji ketiganya merupakan amaliah ibadah kepada Allah. Setiap ibadah meski berbeda rukunnya satu sama lain, pada hakikatnya sama yaitu “bertaqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah” dengan menjalankan segala perintah-perintah-Nya, menjauhkan larangan-larangan-Nya, dan menunaikan apa yang diidzinkan oleh-Nya.
Penghambaan setiap Muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah mengandung makna dan konsekuensi melakukan kepasrahan diri dengan tulus atau ikhlas hanya karena Allah, bukan karena lainnya. Sebuah kepasrahan yang jernih atau autentik (al-hanif) yang secara vertikal menjadikan setiap kaum beriman meneguhkan jiwa ketauhidan untuk selalu taat kepada Allah Yang Maha Esa, sekaligus merawat setiap perilaku agar tetap lurus di jalan benar dan tidak terjerembab ke jurang bathil dan kemusyrikan. Pada saat yang sama melalui ibadah itu seorang Muslim mengkhidmatkan diri untuk selalu berbuat ihsan atau kebaikan yang utama dalam kehidupan sesama dan lingkungannya.
Ajaran kepasrahan diri itu dasar dan muaranya ialah bertauhid, yakni bertuhan hanya kepada Allah dan tidak mensekutukan dengan apapun, yang harus tumbuh kokoh dalam jiwa yang fithrah (aseli, murni, suci) bagi setiap orang beriman secara jernih. Allah berfirman dalam Al-Quran:

 فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٣٠)

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum: 30).
Dalam diri setiap manusia itu terdapat jiwa yang cenderung pada kebaikan dan itulah jiwa yang fithrah atau suci yang membawa pada ketaqwaan, sebaliknya terdapat jiwa yang cenderung pada keburukan dan itulah jiwa fujuura sebagaimana firman Allah:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (١٠)

Artinya: : ”Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”  (QS Asy-Syams: 7-10).
Ibadah yang kita tunaikan termasuk shalat idul adha, berqurban, dan berhaji harus dapat menyuburkan jiwa ketaqwaan sekaligus meredam atau bahkan menghilangkan nafsu keburukan. Menjaga kebersihan jiwa itu merupakan pendakian ruhaniah yang tidak mudah. Kita selaku muslim kadang bertindak lalai diri. Qalbu dan iman yang semestinya dijaga agar tetap bersih, dalam praktiknya terkontaminasi oleh dosa dan fahsyaa’. Setelah beribadah pun kadang tabiat buruk seperti mudah marah, dendam, dusta, congkak, egois, tamak, dan perangai  rendah lainnya menodai praktik hidup kita. Hendak berbuat kebaikan pun banyak hitung-hitungannya sehingga jauh panggang dari api. Dengan perisai ibadah semoga kita dijauhkan dari sifat dan perangai yang buruk itu.
Karenanya, melalui shalat idul adha, berqurban, dan berhaji maka harus ada perubahan perilaku menjadi semakin bertaqwa. Hati, sikap, ucapan, dan tindakan kita harus semakin taat kepada Allah dan ihsan kepada sesama dan dalam kehidupan sehari-hari. Jiwa fitrah yang dihidupkan dengan ibadah dapat menumbuhkan ruhani yang bersih sekaligus meredam hawa nafsu yang selalu menyala dalam diri manusia selaku insan yang hidup dalam hukum duniawi menuju kehidupan ukhrawi yang suci dan abadi.
Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Berhaji dan berqurban mengajarkan jiwa ikhlas untuk menyebarkan nilai kebajikan utama dalam hidup setiap Muslim. Ikhlas merupakan jiwa tunduk yang total kepada Allah SWT sehingga melahirkan pribadi yang tanpa pamrih dalam berbuat kebaikan. Mereka yang hidupnya ikhlas akan mampu membebaskan diri dari hasrat-hasrat sesaat, seraya melintas batas ke peran-peran utama sarat makna seperti suka menolong, berbagi, dan peduli. Mereka berbuat mulia atas nama  Allah untuk ihsan bagi kemanusiaan semesta.
Siapapun yang  berhaji dan berqurban dalam ritual Islam sejatinya menambatkan peribadatan itu pada niat ikhlas hanya untuk Allah semata sebagaimana firman-Nya:

 قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢)

Artinya: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Ajaran ketulusan ditunjukkan oleh Ibrahim, Siti Hajar, dan putra tercintanya Ismail dalam kisah qurban. Allah mengisahkan dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat 101-111 yang artinya sebagai berikut: “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-Shaffat: 101-111).

Kini kita kaum Muslimin, apakah hidup kita semakin ikhlas? Ikhlas dalam beribadah tanpa merasa beban. Ikhlas dalam mesyukuri nikmat dengan jalan memanfaatkan anugerah Allah sebaik-baiknya. Ikhlas ketika menerima musibah baik ringan maupun berat tanpa merasa diri diabaikan Allah. Ikhlas tatkala harus berzakat, berinfaq, bershadaqah, dan berjuang di jalan Allah yang dianggap berat. Ujian keikhlasan justru terletak ketika harus berhadapan dengan hal-hal yang berat dan tidak menyenangkan, yang mengandung esensi di baliknya sebagai batu uji kesabaran, kesyukuran, dan pengabdian menuju kehidupan penuh makna selaku insan bertaqwa.
Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullahh
Ibadah qurban memang menanamkan nilai pengorbanan. Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar memberi teladan terbaik tentang praksis berkurban dengan sepenuh ketaqwaan. Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (٣٧)

Artinya: “Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj : 37).
Apalah artinya hanya seekor hewan kurban bila dibandingkan dengan nyawa seorang Ismail yang sangat dicintai kedua orangtuanya. Maukah kita hari ini berqurban dengan seekor hewan qurban? Kenyataan kadang menunjukkan,  karena kecintaan yang berlebih terhadap harta, sebagian orang menjadi berat hati untuk berkurban dengan seekor hewan. Di antara kita boleh jadi terasa berat untuk berqurban karena hitung-hitungan uang dan harta, meski untuk seekor hewan. Padahal betapa tinggi makna dan fungsi dari ibadah qurban itu baik bagi pelaku maupun umat sesama.
Ibadah qurban mengajarkan makna amal shaleh dan ihsan. Setiap insan beriman yang memiliki kelebihan rizki dan akses kehidupan diperintahkan untuk peduli dan berbagi dengan sesama yang membutuhkan tanpa diskriminasi, tanpa membeda-bedakan. Si kaya berbagi rizki untuk si miskin. Kaum cerdik pandai berbagi ilmu kepada yang awam. Sesama manusia saling menjujung tinggi martabat. Laki-laki dan perempuan saling menghormati dan memuliakan. Siapapun yang diberi akses kekuasaan dan kekayaan yang lebih sedangkan dia beriman maka harus rela hati berkorban bagi sesama, lebih-lebih bagi mereka yang membutuhkan. Semuanya dilandasi spirit pengorbanan yang memiliki dasar pada ajaran Ilahi, yang melahirkan tindakan-tindakan berbagi dan peduli pada sesama yang mencerahkan. Menurut ajaran Nabi, “Wa-llahi fiy ‘auni al-‘abdi maa daama al-‘abdu fiy ‘auni akhihi”, bahwa Allah berada di tengah para hamba sejauh hamba-hamba itu membela dan membantu sesamanya.
Para elite dan warga di negeri yang mengaku insan beriman di mana pun berada perlu memgambil makna hakiki dari ajaran ketulusan, cinta, dan pengorbanan Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar sebagai model perilaku emas yang menebar keutamaan bagi seluruh umat manusia. Adanya segelintir orang atau kelompok yang menguasai mayoritas kekayaan negara dan menyebabkan kesenjangan sosial merupakan bukti lemahnya jiwa berkorban di tubuh bangsa ini. Luruhnya jiwa kenegarawanan yang ditandai kian menguatnya kebiasaan mengutamakan kepentingan diri dan kroni di atas kepentingan publik boleh jadi karena makin terkikisnya jiwa ikhlas berkorban sebagai kanopi suci yang diajarkan para Nabi Allah yang kaya mozaik spiritual Ilahiah itu.
Dalam kehidupan umat dan bangsa sungguh diperlukan jiwa berkorban berbasis iman untuk tegaknya kebenaran, kebaikan, kemajuan, dan segala keutamaan. Termasuk bagi mereka yang selama ini memiliki amanat kekuasaan dan memiliki kekayaan berlebih untuk berkorban demi kesejahteraan rakyat yang masih dilanda kehidupan yang dhu’afa-mustadh’afin di negeri ini. Tanpa pengorbanan dengan jiwa, pikiran, perasaan, dan perbutan yang tulus dan utama dari para elite dan warga bangsa, maka tidak mungkin tercipta kehidupan yang baik dan maju di tubuh bangsa ini dalam bingkai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.
Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Ibadah haji dan qurban juga mengajarkan sifat cinta, yakni kasih sayang atau welas asih yang jernih terhadap sesama sebagai perwujudan cinta kepada Allah.  Nabi Ibrahim, Isa, Muhammad, dan para Rasul kekasih Allah mempraktikan hidup kasih sayang itu terhadap sesama tanpa diskriminasi. Nabi Ibrahim sempat minta kepada Tuhan agar umat Nabi Luth yang durhaka tidak diberi azab. Sifat welas asih  Nabi yang satu ini diabadikan dalam Al-Quran:

 إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيبٌ   (٧٥(

Artinya: “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud : 75).
Para Nabi Utusan Allah itu sangatlah berjiwa kasih sayang. Nabi Muhammad ketika dilempari batu oleh kaum Thaif tatkala hijrah, beliau berkeberatan pada saat Malaikat Jibril menawarinya agar mereka  yang melukainya itu diberi azab. “Jangan, mereka sungguh kaum yang belum mengerti”, ujar Nabi akhir zaman itu. Dalam hadisnya beliau bersabda, yang artinya:, “Tidaklah beriman seseorang hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Muslim).  Rahmat Allah pun terlimpah bagi para hamba yang menebarkan kasih sayang di muka bumi.
Pada saat ini tidak sedikit manusia tejangkiti virus egoisme, yakni sikap hanya mementingkan diri dan kelompok sendiri. Demi kepentingan golongan sendiri rela mengorbankan kepentingan sesama, bahkan terhadap sesama seiman. Aji mumpung kekuasaan tumbuh di mana-mana. Sifat kasih sayang atau welas asih seolah menjadi mutiara yang hilang untuk ditemukan kembali. Kekerasan, konflik, dan bahkan perang terjadi di sejumlah tempat dan kawasan antara lain karena menguatnya egoisme dan luruhnya kasih sayang antar sesama. Manusia seolah menjadi srigala bagi yang lainnya.
Sebagian orang beriman pun atas nama agama dan kebenaran tidak sedikit menjadi ringan tangan berbuat kekerasan, sehingga kehilangan watak kasih sayangnya terhadap sesama sebagaimana diajarkan agama dan para Nabi. Agama dan jejak Nabi yang mengajarkan kasih sayang dan kedamaian hanya menjadi ujaran dan retorika indah, sering tidak menjadi pola tindak dan keteladanan dalam kehidupan umat beragama. Saling hujat, caci maki, kebencian, dan sikap saling menyebar kenegatifan kadang terbuka di ruang publik baik antar sesama umat seagama maupun antar umat beragama dipicu oleh berbagai sebab, namun pada akhirnya bermuara pada luruhnya jiwa damai dan kasih sayang antar sesama.
Sebagian panorama kehidupan saat ini di banyak kawasan cenderung berwajah garang, konflik, dan perang. Kita prihatin dan mengecam keras tindakan Israel yang semena-mena atas Masjid Al-Aqsha dan rakyat Palestina, yang selalu menyebarkan bencana dan kerusakan di kawasan Timur Tengah. Kita juga berharap agar saudara-saudara Muslim di Rohingya dan kawasan lain yang masih berada dalam penderitaan memperoleh perlindungan Allah dan jalan keluar yang terbaik. Kita juga berharap agar Perserikatan Bangsa-Bangsa benar-benar tegas dalam menegakkan perdamaian dan tidak diskriminasi hanya karena mengikuti kemauan negara-negara adidaya yang merusak tatanan dunia yang baik untuk semua.
Kita juga prihatin dengan perkembangan dan dampak negatif media sosial. Media sosial sering menjadi ajang relasi yang kurang baik seperti mudah menebar kebencian, permusuhan, fitnah, amarah, dan ujaran-ujaran tak pantas sehingga kehilangan keadaban dan bingkai akhlaq karimah. Kekerasan terjadi di banyak ranah kehidupan. Kini insan beriman di mana pun berada diuji ketulusan dalam hidup berbasis nilai-nilai Ilahi dalam menghadapi dunia yang banyak kepentingan harta, tahta, dan pesona dunia yang serba menghalalkan apa saja. Kehidupan politik yang serbabebas, ekonomi yang serbakapitalistik, dan budaya populer yang memuja kesenangan inderawi membuat masyarakat kehilangan nilai-nilai Ilahi yang bermakna utama.
Bagi Mukmin sejati bahwa ibadah haji, qurban, dan ibadah-ibadah lainnya harus menjadikan dirinya semakin dekat dengan Allah dan berbuat kebaikan bagi sesama dalam jalinan hablum minallah dan hablum minannas  yang harmonis. Jika setiap muslim memiliki relasi hablum minallah dan hablum minannas yang baik dan seimbang, maka akan melahirkan kehidupan yang utama di dunia dan akhirat. Sebaliknya manakala hablum minallah dan hablum minannas tidak terjalin baik maka terjadi kerusakan dalam kehidupan umat manusia sebagaimana firman Allah:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (١١٢)

Artinya: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas” (QS. Ali Imran: 112).
Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Di akhir khutbah ini marilah kita berdo’a agar shalat Idul Adha, ibadah qurban, serta segenap ibadah kita selaku Muslim melahirkan kehidupan yang khusyuk, baik, dan utama. Saudara-saudara kita yang tengah menunaikan ibadah haji diberi kemudahan dan keberkahan oleh Allah serta bias meraih haji yang mabrur. Saudara-saudara kita di manapun berada yang memperoleh musibah agar diberi kesabaran dan anugerah Allah. Kita bermunajat kepada Allah agar hidup di dunia ini senantiasa berada di jalan-Nya, beribadah dan menjalankan tugas kekhalifahan dalam bimbingan-Nya, serta di akhirat kelak menjadi penghuni Jannatun Na’im dalam ridla dan karunia-Nya. Amin ya Rabb al-‘Alamin.

.اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَخْمَعِيْنَ
اَلّلَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبُ مُخِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَظِيَ الْحَخَاتِ يَامُجِيبَ السَّاءِلَتِ
اَلَّلهُمَّ اِنَّا نَسْاءَلُكَ سَلَمَتً فِي الدِّيْنِ وَعَافِيَتَ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَهً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يآاَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.
اَلَّلهُمَّ تَقَبَّلْ مِنّآ صَلاَتَنا َوَجَمِيعَ عِبآدَتِنآ بِرِضآكَ وَفَضْلِكَ الْكَرِيْم  وَتُبْ عَلَيْنآ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَابُ الرَّحِيْمُ .
 رَبَّنآ لاَتُزِغْ قُلُوْبَنآ بَعْدَ إِذْ هَذَيْتَنآ وَهَبْ لَنَآ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ الْوَهَآبُ. رَبَّنآ هَبْ لَنَآ مِنْ أَزْوَاجِنَآ وَذُرِّيَتِنَآ قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَآ لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمُ عَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أكْبَر
 واَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُه⁠⁠⁠⁠