Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Oktober 2017
MENGUBAH MINDA
Oleh : Haedar Nashir
Apa yang terjadi manakala sehari-hari pikiran orang Indonesia dijejali dengan isu-isu keras yang menegangkan urat syaraf? Sebutlah kosakata radikal, ekstremis, teroris, intoleran, dan beragam diksi negatif lain yang menyesakkan rongga dada. Lebih-lebih bila produksi ujaran-ujaran seram itu setiap hari keluar dari lisan ulama dan tokoh agama dengan nada ingar-bingar.
Para pejabat negeri di sejumlah tempat pun tidak kalah fasih mendaur-ulang kalimat-kalimat yang sama menegangkan. Awas anti-Pancasila, anti-kebhinekaan, anti-NKRI, dan segala anti-lainnya yang mengingatkan kita pada pola pikir rezim Orde Baru di masa lalu. Indonesia seperti benar-benar di tubir jurang, nyaris seakan tidak ada kekuatan dari dalam (inner dynamic) yang dapat menjadi penyangga tegaknya Indonesia.
Sementara pada saat yang sama, pada sebagian warga bangsa mulai muncul tindakan-tindakan main hakim sendiri terhadap mereka yang berbeda paham dan golongan, hatta kepada sesama seagama. Menolak berdirinya masjid di lingkungan sesama umat Islam, malah ada yang tega membakar. Mengusir warga seiman hanya karena beda paham dan difatwa sesat. Padahal retorika ke ruang publik menyuarakan agama damai, moderat, dan rahmatan lil-'alamin.
Lantas di mana pengaruh dari ujaran kewaspadaan yang mengharu-biru itu pengaruhnya kepada umat? Nuansa sosial yang serba paradoks itu perlu menjadi bahan renungan yang jernih bagi para penyebar dakwah, elite negeri, dan tokoh wibawa di manapun berada. Semakin kencang beragam alarm dan peringatan tentang hal-hal negatif di negeri ini, keadaan di masyarakat justru tak berbading lurus. Lain di pikiran elite dan para pemimpin, beda pula yang bertumbuh di warga masyarakat.
Pola pikir ekstrem ternyata tak mampu mengeliminasi ekstrimitas. Deradikalisme tak mampu membendung radikalisme. Di sini mungkin cara pikir kita perlu diubah atau diperbarui. Produksilah diksi-diksi kegembiraan dan kisah-kisah sukses anak-anak bangsa di seluruh antero tanah air. Dalam bahasa Melayu, mengubah minda
atau state of mind. Bahwa terlalu berlebihan memproduksi hal-hal negatif, malah kenegatifan itu yang terjadi di masyarakat. Boleh jadi bukan sekadar materi isu yang perlu dikaji ulang, tetapi intensitas dan takarannya yang perlu dievaluasi agar tak berlebihan, yang mengabaikan kita pada nalar sehat yang wajar dan proporsional.
Sikap tengahan
Siapapun tentu bersetuju seratus prosen bahwa radikalisme apapun, lebih-lebih manakala membuahkan tindakan-tindakan kekerasan dan anarki, merupakan hal buruk yang tidak boleh ditoleransi dan berkembang di masyarakat. Kenyataan di negeri mana pun bahwa pola pikir, sikap, dan perilaku radikal dalam makna ekstrem dan melahirkan tindakan-tindakan berlebihan sering terjadi. Tidak ada bangsa dan masyarakat yang benar-benar bebas dari radikalisme dan ekstrimisme dalam beragam bentuk, bukan melulu yang bernada keagamaan. Semua harus dicegah, ditindak, dan dihilangkan.
Namun menghadapi hal-hal yang serba ekstrem itu tidaklah mudah dianalisis dan disikapi dengan cara instan dan gampangan. Tidak pula dengan melakukan generalisasi yang membuat seluruh area dan persoalan seolah diliputi oleh ekstrimisme dan radikalisme. Seolah tiada ruang longgar dari kedua persoalan tersebut, meskipun memang kenyataannya ada dan faktual. Bagaimana pun perlu blocking-area agar tetap terbuka luas rongga-rongga kehidupan kebangsaan di negeri ini yang moderat, normal, dan memancarkan kebajikan kolektif.
Demikian pula dengan persoalan bangsa dan negara. Bangsa dan negara di mana pun tidak bebas dari masalah. Persoalan keagamaan, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, sosial, ekonomi, lebih-lebih politik. Kadar, jenis, dan intensitas persoalan satu sama lain tentu berbeda. Setiap pemerintahan berganti selalu ada persoalan, baik persoalan lama maupun baru. Bangsa yang besar bukan tanpa persoalan, tetapi mampu menyikapi dan menyelesaikan persoalan-persoalannya secara tepat dan sesuai kadarnya. Apakah perlu semua persoalan digeneralisasi kadarnya?
Menjadi penting menempatkan setiap persoalan pada tempatnya dan tidak terjadi generalisasi dan dramatisasi sehingga keadaan bangsa dan negeri ini seakan gelap gulita dan kehilangan jalan terang. Tidak pula melakukan simplifikasi sehingga masalah besar menjadi kecil, sebaliknya yang kecil dibesar-besarkan. Apalagi jika masalah dikomoditikan atau diperjualbelikan, sehingga terjadi pengawetan dan bahkan kapitalisasi masalah demi meraih keuntungan uang, materi, dan kepentingan-kepentingan sesaat.
Agama mengajarkan
khair al-'umur auwsathuha, bahwa sebaik-baik urusan ialah yang tengahan. Masalah ditempatkan pada proporsinya, itulah sikap adil dalam memposisikan masalah. Mengurangi atau melebih-lebihkan masalah sama ekstremnya. Menyikapi hal radikal dan ekstrem dengan cara pandang, sikap, dan tindakan ekstrem sama dan sebangun dengan ekstrimitas itu sendiri. Jika ingin moderat dalam menghadapi masalah maka tunjukkan kemoderatan yang semestinya, itulah yang disebut moderasi yang diajarkan agama.
Kadang atau sering terjadi paradoks. Kritik dianggap menghujat, karena budaya menjilat meluas. Orang dengan mudah sering mengeritik pihak lain secara lantang, namun sekali balik dikiritik pendukungnya marah dan melempar ancaman. Tidak suka di kanan tetapi mengambil posisi di kiri, begitu sebaliknya. Ingin di tengah tetapi kekanan-kananan atau kekiri-kirian. Di tengah pun menjadi sering ekstrem, sehingga menjelma dalam wajah ekstrim tengah. Kanan, kiri, dan tengah adalah garis posisi yang tidak bisa absolut, ukurannya adalah kontekstualitas, objektivitas, rasionalitas, dan adil.
Nalar sehat dan jernih menjadi sulit memperoleh ruang longgar karena banyak pihak terbiasa dengan pola pikir tunggal, linier, hitam putih, dan ekstrem. Suka dan tidak suka mekar, sehingga sikap adil dalam melihat dan memposisikan masalah pun menjadi hilang. Padahal Allah mengajarkan insan beriman untuk berbuat adil hatta terhadap mereka yang kita tidak suka (QS Al-Mâidah: 8). Sikap adil itu memiliki irisan dengan perilaku tengahan dan kebajikan (QS An-Nisâ: 135; An-Nahl: 90). Sedangkan fondasi adil itu kebenaran, demikian menurut Al-Quran. Anda dapat berbuat adil dan tengahan jika anda memiliki patokan kebenaran yang autentik, bukan yang semu dan dibuat-buat!
Banyak kepentingan
Kehidupan berbangsa di negeri ini terlalu sarat beban. Satu diantaranya banyaknya lalulintas kepentingan yang sedemikian bebas, sebebas proses politik dan ekonomi yang menjadikan Indonesia serba liberal. Politik transaksi menjadi pemandangan umum, sehingga dalam bahasa sosilologi terjadilah komodifikasi yang massif, semua hal ada harganya untuk diperjualbelikan. Agama pun, termasuk fatwa, terbuka kemungkinan dapat menjadi lahan komoditi paling menarik.
Akibatnya tidak sedikit masalah menjadi awet dan malah cenderung diproduksi dan direproduksi karena makin lama kian mahal harganya untuk dikomodifikasikan di pasaran. Radikalisme, ekstremisme, dan apapun yang menjadi masalah menjadi komoditi yang laris di ruang publik, sehingga kian lama bukan makin kecil dan hilang tetapi menjadi mekar. Ada yang genuin, tetapi tidak sedikit yang menjadi proyek dan diproyekkan. Setiap jengkal ada proposalnya, sehingga terjadi perluasan dan pengembangbiakkan masalah.
Dalam keadaan yang serbatransaksional dan komodifikasi itu maka ruang kewajaran pun menjadi makin menyempit. Normalitas dikalahkan abnormalitas. Masalah tidak dapat dianalisis secara jernih karena analisis dan solusinya sudah dipatok harus tunggal sesuai dengan para pemangku kepentingan dan yang saling berkepentingan. Mereka yang tidak berkepentingan meskipun memiliki pikiran dan tawaran yang baik tidak akan terakomodasi, bahkan dapat dianggap sebagai pengganggu karena berada di luar pasar dan program komoditas. Agar sah melakukan tindakan sepihak terhadap orang lain diproduksi istilah-istilah yang stigmatik dan stereotipe keagamaan tertentu, sehingga pihak yang tak bersalah pun bisa menjadi korban.
Tarikan kepentingan diri dan kelompok semakin tingggi dalam banyak urusan kebangsaan sering menjadi sandera bagi bangsa ini untuk keluar dari masalah, malah tidak jarang terjebak pada lingkaran setan yang tak berujung pangkal. Pemberantasan korupsi sering kontroversi, sehingga para koruptor makin leluasa beroperasi dan berkamuflase diri. Proyek reklamasi makin menjadi polemik, karena di dalamnya sarat kepentingan. Para mafia apapun makin leluasa berdiaspora di negeri ini, karena semuanya dapat ditransaksikan dan diperjualbelikan. Adakah rakyat memperoleh keuntungan di balik semua itu? Sama sekali tidak!
Karenanya diperlukan pola pikir baru yang bersih dari lalulintas kepentingan dan beban komodifikasi, sehingga dalam menghadapi dan mencari solusi atas masalah-masalah di tubuh bangsa ini dapat dikonstruksi secara lebih tepat, benar, dan jernih sehingga terbuka jalan keluar. Jangan sampai gali lobang tutup lobang serta keluar dari satu masalah masuk ke masalah lain yang sama peliknya atau malah berujung di jalan buntu. Semua pihak mesti berjiwa besar dan terbuka dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah-masalah bangsa. Belajarlah dari jalan rumit persoalan Perppu dan UU Ormas, yang akhirnya menjadi masalalah krusial yang membelah bangsa karena sejak awal niat dan pola pikirnya serba apriori.
Jangan diikuti dan dimanjakan pola pikir asal loyal dan asal dukung tanpa tanggungjawab yang besar untuk masa depan bangsa. Apalagi loyalitas kebangsaan yang naif itu disertai tukar-menukar kepentingan sesaat. Sama pentingnya siapapun warga dan kelompok bangsa jangan asal tidak senang secara apriori sehingga di negeri ini seolah tak ada noktah-noktah kebajikan. Saling berdiri dalam oposisi biner yang terus berhadapan secara ekstrem dalam berbangsa dan menyikap masalah-masalah kebangsaan sangatlah merugikan Indonesia. Ujaran-ujaran dan sikap-tindak ugal-ugalan hatta yang mengatasnamakan pandangan keagamaaan apapun saatnya dihentikan agar tak memercikkan api permusuhan, yang sekali ditebarkan sangat sulit untuk dipadamkan.
Jika Indonesia saat ini dan ke depan ingin bangkit menjadi bangsa dan negara besar maka elite dan rakyatnya niscaya berjiwa besar, berpikir cerdas, dan melakukan langkah-langkah yang konstruktif berkemajuan. Bukan menjadi sosok-sosok yang kerdil jiwa, pikiran, dan tindakan hingga menjadikan negeri dan bangsa ini terbonsai dalam kerangkeng yang penuh onak dan duri.
Ubah minda dari pola pikir serba-negatif dan sarat kepentingan dengan mengkonsumsi dan memproduksi hal-hal yang positif-konstruktif disertai visi optimisme dan jiwa kenegarawanan yang melampaui. Jadilah elite dan warga bangsa yang akil-balig, seraya mengakhiri masa kekanak-kanakkan agar Indonesia makin dewasa. Ubahlah minda dari kekerdilan dan kenaifan dengan aura ihsan, kearifan, kecerdasan, dan segala jejak berkemajuan! (sumber: Republika)
Kamis, 28 September 2017
Hidayat Nur Wahid: Tidak Ada Tempat Bagi Komunisme di Indonesia
Tidak ada tempat bagi komunisme di Indonesia. Hal ini ditegaskan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI pada Senin (25/9/2017) malam di Wisma Perdamaian, Semarang, Jawa Tengah.
Menurut tokoh nasional kelahiran Prambanan ini, selain komunisme, Partai Komunis Indonesia (PKI) juga dilarang. Pelarangan ini, tidak saja di Tap MPRS tetapi juga di beberapa perundang-undangan lainnya.
"Tidak ada tempat bagi komunisme di Indonesia, apalagi PKI adalah organisasi terlarang bukan hanya TAP MPRS nomor 25 1966, namun juga dikuatkan oleh TAP MPR nomor 1 tahun 2003, dikeluarkan juga oleh UU KUHP no 17 tahun 1999, dikokohkan kembali dengan UU Keormasan Pasal 107 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999, UU no 17 tahun 2013 juga yang terakhir perpu nomor 2 tahun 2017,” ujar Hidayat.
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid membuka sesi dialog yang merupakan bagian dari acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Dalam acara sosialisasi kali ini, MPR RI bekerja sama dengan Mathla’Ul Anwar.
Di hadapan ratusan undangan, Hidayat mengatakan bahwa selama ini MPR RI telah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak di berbagai daerah, seperti organisasi masyarakat, organisasi politik, yayasan, TNI serta Polri. Menurutnya, hal tersebut merupakan bukti bahwa MPR RI melaksanakan salah satu kewajibannya, yaitu bekerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Dalam pelaksanaan acara sosialisasi pun, pihak penyelenggara tidak lupa untuk mengundang sejumlah warga sekitar. Di luar dugaan, antusiasme mereka cukup tinggi, termasuk saat menjawab beberapa pertanyaan yang sesekali dilontarkan Hidayat ketika menyampaikan materi.
Melihat antusiasme para undangan, ia merasa bahwa masyarakat membutuhkan informasi langsung tentang prinsip berbangsa dan bernegara.
"Empat Pilar menjadi penting untuk disosialisasikan karena banyak tantangannya saat ini, yakni, ada satu pihak yang akan menghilangkan esensi dari Empat Pilar. Apakah itu radikalisme, separatisme, komunisme dan liberalisme. Semua itu tidak sesuai dengan prinsip Pancasila dan UUD Negara 1945," kata Hidayat.
Hidayat juga menambahkan, menjelang peringatan G30S-PKI, sosialisasi ini akan semakin digiatkan. Tujuannya adalah untuk kembali mengingatkan jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya dan Pancasila sebagai ideologi serta dasar negara.
"Dengan Sosialisasi Empat Pilar, maka masyarakat semakin kokoh kuat dalam NKRI. Kokoh kuat melaksanakan Pancasila dan semakin mempunyai imunitas, sehingga tidak terpengaruh dengan isme-isme bertentangan dengan Pancasila dan UUD Negara 1945," ungkap Hidayat. (bpp/kpc)
Sabtu, 23 September 2017
Indonesia Tawarkan Formula 4 + 1 untuk Selesaikan Masalah Rohingya
Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan, Indonesia mengusulkan formula 4+1 untuk menyelesaikan masalah Rohingya. Menurutnya, formula ini merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan Rohingya di Myanmar. Formula 4+1 merupakan solusi yang dianggap ideal.
"Formula 4+1 yang kita tawarkan itu yang bisa diterima kedua belah pihak. Dan merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan kasus Rohingya " kata Jusuf Kalla usai berpidato di markas iPhone York, Amerika Serikat, Kamis 21 September 2017.
Menurut Jusuf Kalla, yang paling utama saat ini adalah membuka akses agar bantuan kemanusiaan bisa masuk Myanmar untuk membantu pengungsi Rohingya. Wapres mengatakan tidak mungkin mengerahkan pasukan dan tidak bisa dengan pasukan penjaga perdamaian.
Pemerintah Indonesia telah menawarkan formula 4+1 untuk Rakhine State. Formula 4+1 tersebut, mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama. Serta pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan. (bpp/mtnc)
Sabtu, 26 Agustus 2017
Bambang Brodjonegoro: Predikat Penduduk Muslim Terbesar di Dunia akan Lepas dari Indonesia
Saat ini Indonesia merupakan negara yang berpenduduk Muslim paling banyak di dunia, India penduduk Muslim 10 persen di bawahnya. Tetapi tahun 2045 jumlah penduduk Muslim di Indonesia akan tersalip oleh India.
Prediksi ini disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ( Bappenas) Bambang Brojonegoro, Kamis (24/8/2017) di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta. Ia menyebut Indonesia tak akan lagi menjadi negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, sebab pertumbuhan penduduk di Indonesia menurun.
"Jumlah anak per keluarga rata-rata 2,3 anak, ke depan akan terus menurun jadi 2,1. Jadi tiap keluarga punya anak 1, 2, 3, nah dirata-ratakan itu 2,3," kata Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, kepada wartawan.
Tahun ini, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 260 juta jiwa. Pada 100 tahun kemerdekaan atau tahun 2045, penduduk Indonesia diprediksi berjumlah 320 juta jiwa.
Saat ini, Indonesia berada di peringkat 4 dunia dengan jumlah penduduk terbesar, sesudah China, India, dan Amerika Serikat.
Meskipun India berada di peringkat 2, namun jumlah penduduknya sebanyak 1,2 miliar jiwa atau 5 kali jumlah penduduk Indonesia.
Sedangkan jumlah penduduk Muslim di India saat ini 10 persen lebih sedikit dibanding jumlah penduduk Muslim di Indonesia.
Penduduk Muslim di India merupakan kedua terbesar di dunia setelah Indonesia.
"Tahun 2045, siapa negara dengan penduduk terbesar di dunia? Bukan lagi China tapi India yang diprediksi jumlah penduduknya 1,7 miliar jiwa pada tahun 2045," kata Bambang.
"Dalam waktu yang tidak terlalu lama, jumlah penduduk muslim di India yang merupakan minoritas akan melampaui (jumlah penduduk muslim) di Indonesia," kata Bambang lagi.
Hal ini, lanjut dia, bukanlah hal yang aneh. Menurut Bambang, hal ini merupakan prediksi populasi yang sudah biasa terjadi.
Sebelum bukan lagi menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia harus dapat merebut posisi hak internasional dari keuangan syariah maupun sektor riil syariah.
Melalui itu, Indonesia dapat memanfaatkan pasar besar di negara lain di masa mendatang. Bappenas memprediksi, jumlah penduduk Indonesia tahun 2045 akan kalah dibandingkan India, Pakistan, dan Nigeria.
"(jumlah) penduduk total saja kalah, apalagi penduduk muslim, sudah otomatis itu. Karena enggak lama lagi status (penduduk Muslim terbesar di dunia) akan hilang, sayang sekali kalau kita belum menjadi pemain utama dalam hal perekonomian syariah," kata Bambang. (bpp/kps)
Kamis, 24 Agustus 2017
Bangun Dulu Manusia Cerdas untuk Pengembangan Smart City
Pengembangan Smart City membutuhkan manusia smart (cerdas) sebagai penggunanya. Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM Erwi Agus Purwanto mengenai digalakkannya pengembangan smart city di Indonesia.
Pengembangan smart city kini memang menjadi salah satu prioritas Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Dirjen Otoda Soni Sumarsono menyatakan pemerintah melalui Kemendagri telah memberikan instruksi kepada kepala pemerintahan daerah untuk mengembangkan wilayahnya sebagai smart city sesuai dengan kesiapan dan masalah yang dihadapi.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Erwan Agus Purwanto, mengatakan bahwa pengembangan smart city tak hanya membutuhkan software dan hardware yang cerdas tetapi juga manusia sebagai pengguna yang cerdas. Pengguna merupakan elemen krusial sementara teknologi hanyalah sebagai alat untuk memudahkan pengelolaan kota.
Dari penelitian yang dilakukan UGM untuk penyusunan peraturan presiden tentang smart city, Erwan mengatakan bahwa manusia cerdas yang akan bisa menyukseskan smart city adalah mereka yang menguasai beberapa aspek sosial.
“Orang-orang di dalam kota pintar memiliki peran penting yaitu pada aspek sosial yang ada di perkotaan dan kapasitas SDM yang ada kota memiliki berbagai macam kreativitas, inovasi terobosan, dan juga menerima berbagai macam pluralitas,” terangnya di acara Dialog Publik ‘Smart City: Menembus Batas Komunikasi, Membangun Indonesia’ di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Rabu (24/8/2017).
Terjerat medsos
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa masyarakat dan birokrat Indonesia masih belum bisa disebut smart people karena beberapa aspek.
Data menunjukkan bahwa jumlah warganet Indonesia yang terjerat UU ITE 2008 hingga 2016 masih tinggi, 285 orang. Erwan menyebutkan bahwa 56 persen orang yang terjerat peraturan tersebut karena mengunggah status di Facebook.
“Ini menunjukkan kondisi masyarakat Indonesia terkait bagaimana pengetahuannya terhadap hukum. Smart city masih jauh dari harapan,” sambungnya.
"Masyarakat juga bisa didorong membuat konten positif, mengajak selebriti untuk terlibat dalam program ini, memberdayakan jaringan masyarakat sipil, dan aktivis sosial untuk ikut meningkatkan literasi dunia maya,” pungkasnya.
Selain itu, terkait minat baca anak-anak, data Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2015 menunjukkan Indonesia masih berada pada posisi yang cukup bontot. Indonesia ada di posisi 64 dari 72 negara.
“Indonesia masih berada di rangking bawah untuk rata-rata waktu baca. Rata-rata waktu baca secara internasional UNESCO 5-6 jam sedangkan kalau di Indonesia masih 2-4 jam,” lanjutnya.
Literasi digital
Erwan mengusulkan pemerintah melakukan program peningkatan literasi media digital baik dari atas ke bawah maupun sebaliknya. Ia pun menyebutkan bahwa di Eropa, program ini sudah dimulai sejak kecil. Tujuannya, agar mereka bisa menjadi warganet yang baik.
“Tugas pemerintah Otoda untuk mengembangkan berbagai macam program yang bersifat dari atas atau dari bawah. Pemerintah bisa merancang literasi digital dengan memasukkannya sebagai mata pelajaran di SD, SMP atau SMA dan kampus," kata dia.
Sementara itu menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia kini telah mencapai 52 persen atau 132 juta orang.
Sebanyak 67,2 juta orang (50,7 persen) mengakses melalui perangkat genggam dan komputer. Sementara 63,1 juta orang (47,6 persen) mengakses dari smartphone. Sisanya, 2,2 juta orang (1,7 persen) mengakses hanya dari komputer. (bpp/cnni)
Minggu, 20 Agustus 2017
Menteri Malaysia Minta Maaf Kesalahan Bendera Indonesia tak Disengaja
Menteri Pemuda dan Olah Raga Malaysia Khairy Jamaluddin meminta maaf atas insiden bendera terbalik dalam buklet SEA Games 2017 di Kuala Lumpur. Menurutnya, kesalahan tersebut murni ketidaksengajaan.
"Bapak Imam (Nahrawi), tolong terima permintaan tulus saya. Tidak ada kedengkian. Saya sangat menyesal dengan kesalahan yang terjadi, saya minta maaf, " ujarnya lewat Twitter sebagai tanggapan atas pernyataan Menteri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nahrawi, seperti diberitakan kantor berita, Bernama.
Dalam buklet SEA Games 2017, bendera Indonesia dicetak secara terbalik, yakni putih merah dari seharusnya merah putih. Sementara itu, Komite Penyelenggara SEA Games Malaysia (MASOC) dalam sebuah pernyataan, meminta maaf kepada rakyat Indonesia atas kesalahan yang tidak disengaja tersebut.
Dalam pernyataan itu, Khairy yang juga pejabat di MASOC akan menelepon Imam Nahrawi untuk meminta maaf atas nama komite tersebut.
"Kami benar-benar menyesali kesalahan ini dan kami berharap hubungan erat kedua negara semakin meningkat dalam semangat SEA Games," demikian bunyi pernyataan tersebut. (rep)
SERBA TERBALIK
Bendera RI terbalik di buku panduan SEA Games, baru kali ini terjadi!
Padahal SEA Games sudah berpuluh tahun digelar sejak saya masih anak-anak.
Tidak mungkin panitia tidak hafal bendera RI yang hanya dwi warna merah dan putih.
Padahal SEA Games sudah berpuluh tahun digelar sejak saya masih anak-anak.
Tidak mungkin panitia tidak hafal bendera RI yang hanya dwi warna merah dan putih.
Mungkin ini perlambang agar kita semua berpikir, merenung, introspeksi, bahwa di negeri ini semua sudah SERBA TERBALIK.
Banyak contohnya :
Banyak contohnya :
1. Anggota DPR berorasi di depan konstituennya dg provokatif dan ajakan saling bunuh, habisi, malah dibela, sementara doa yang didalamnya tidak ada unsur provokasi, malah dihujat.
2. Perusahaan raksasa membangun property dalam bentuk satu kota exclusive tanpa ijin, dibiarkan berpromosi, dan terus menjual unit bangunannya, sementara penggilingan beras yang membeli beras lebih mahal kepada petani, menguntungkan petani, malah dipidanakan hanya dengan alasan mencantumkan label AKG tidak benar.
3. Yang memposting video penghinaan kepada agama Islam dengan terang-terangan mengatakan agama Islam agama setan, dibiarkan. Sementara yang mengunggah video polisi menerima suap malah diancam pidana.
4. Pejabat menistakan agama dibiarkan tetap menjabat, selama sidang bebas, bahkan hingga vonis jatuh dan incraacht pun tidak tampak dia ditahan. Sementara seorang ustadz yang mengingatkan bahaya PKI diborgol.
5. Seorang ahli IT yang dibacok di jalan toll dini hari buta, hanya diselamatkan oleh istrinya, malah istrunya yang difitnah habis-habisan. Sementara pembacoknya disuguhi makanan, diajak makan bersama Kapolda, diberi panggung wawancara dengan stasiun tv.
6. Seorang penyidik KPK disiram air keras wajahnya sampai nyaris buta kedua matanya, malah dia yang disudutkan dengan beragam issu, sementara penyiramnya sampai sekarang tidak tersentuh.
7. Nenek ambil kayu tidak berniat mencuri hanya untuk kebutuhan hidup, dipidana. Sementara tersangka korupsi eKTP yang merugikan negara milyaran rupiah masih bebas mengemban jabatannya.
Silakan tambahkan sendiri fenomena TERBALIK dimana KEBENARAN DIPAKSAKAN JADI SALAH, sementara KESALAHAN DIPUJA BERSAMA DAN DIBELA SEOLAH KEBENARAN. (FB Bedjo Moeljo Bedjo)
Sabtu, 19 Agustus 2017
Inilah Konsep Indonesia Berkah Menurut Habib Rizieq
Tokoh Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab menyebut konglomerat tak boleh kikir dan serakah serta prostitusi dan LBGT (Lesbian, Biseksual, Gay, Transgender) harus musnah agar Indonesia berkah.
Rizieq menyampaikan pesan ini lewat rekaman suara dari Mekah dan diperdengarkan dalam peringatan ulang tahun ke-19 organisasinya di Stadion Kamal Muara, Jakarta Utara, Sabtu (19/8).
"Indonesia berkah adalah ulama harus arif dan istiqomah, umarok harus adil dan bijaksana. Konglomerat jangan kikir dan serakah. TNI dan Polri harus jadi pelindung bangsa dan negara," ucap Rizieq.
"Prostitusi dan LGBT harus lenyap dan tiada. Khamr (makanan dan minuman yang diharamkan) dan judi harus dibasmi dan musnah. Rakyat patuh terhadap ulama dan umaro. Kalau bisa diwujudkan, itulah Indonesia berkah." (cnni)
Bamag LKK: Hubungan FPI dengan Kristen Berjalan Baik
Badan Musyawarah Antar Gereja-Lembaga Keagamaan Kristen (Bamag LKK) Indonesia menghadiri Milad Front Pembela Islam (FPI) ke-19 di Stadion Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara pada Sabtu (19/8/17). Bamag LKK berpesan, jangan sampai jarak atau kekosongan antar umat beragama dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu.
Ketua Umum Bamag LKK Indonesia, Agus Susanto mengatakan, kerukunan antar umat beragama harus ditingkatkan agar kekosongan atau jarak antarumat beragama tidak dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu. Milad FPI merupakan momentum untuk meningkatkan kualitas kerukunan antar umat beragama yang ada di Indonesia.
"Agar jarak antara umat beragama tidak diisi oleh kepentingan-kepentingan yang dapat mengganggu hubungan antar umat beragama, khususnya umat kristen dengan FPI," kata Agus kepada Republika.co.id di Stadion Kamal Muara, Sabtu (19/8).
Ia menyampaikan, persaudaraan sejati antara umat Kristen dan FPI bisa berlanjut demi kepentingan Bangsa Indonesia ke depan. Umat kristen mengajak semua pihak untuk meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama. Juga mengajak untuk meningkatkan perjuangan demi menjaga NKRI yang berdasarkan Pancasila.
Bamag LKK juga berpandangan, hubungan mereka dengan FPI sampai saat ini berjalan baik. Hanya saja ada pihak yang ingin menciptakan jarak antara umat Kristen dan FPI. "Selama ini FPI berhubungan dengan kami sangat baik, makanya tadi saya sampaikan ada jarak, jarak itu sengaja dibikin oleh kepentingan-kepentingan tertentu," ujarnya.
Agus menerangkan, jarak atau ruang kosong itulah yang dimanfaatkan oleh kepentingan lain. Tujuannya untuk mengadu antar umat beragama sehingga pada akhirnya akan menghilangkan NKRI. Padahal, kenyataannya umat kristen dengan FPI tidak ada masalah.
Acara Milad FPI dimulai sekitar pukul 03.00 WIB dengan melaksanakan Shalat Tahajjud dan Subuh berjamaah. Juga digelar acara doa bersama untuk negeri, pentas seni Islam, parade laskar dan ceramah agama serta kegiatan yang lainnya. Sejumlah tokoh umat agama lain menghadiri acara Milad FPI tahun ini. (sumber: republika)
Jumat, 18 Agustus 2017
Zulkifli Hasan: Konstitusi Harus Kita Kawal
Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengingatkan pentingnya mengawal konstitusi untuk tetap menjadi panduan bernegara. Pasalnya, konstitusi merupakan konsensus seluruh warga negara yang merangkum kehendak dan cita bernegara untuk diwujudkan di masa yang akan datang.
Menurut Zulkifli, saat ini banyak tantangan dan persoalan yang berpotensi dapat menghambat tercapainya kehendak dan cita bernegara tersebut. Oleh karena itu nilai-nilai konstitusi yang dirumuskan oleh para pendiri negara harus dapat dipahami dan dilaksanakan.
"Gagasan dan ide konstruktif untuk melaksanakan nilai-nilai konstitusi haruslah melibatkan seluruh warga negara tanpa kecuali," tegas Zulkifli dalam acara Peringatan Hari Konstitusi dan grand final Lomba Cerdas Cermat Pilar MPR, Jumat (18/8/17) di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta.
Menurut Zulkifli, konstitusi secara alamiah akan terus berkembang sesuai dengan dinamika dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, konstitusi yang ada dapat terus menyesuaikan dengan tuntutan jaman, terutama dalam hal menghadapi tantangan dan hambatan dalam kehidupan bernegara.
Zulkifli menilai, tantangan utama bangsa Indonesia sekarang ini bukanlah adanya gejala kuat untuk mengubah dasar negara atau bentuk negara seperti yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan berbangsa di Indonesia. Namun bagaimana menjaga kemajemukan sekaligus meneguhkan kemandirian bangsa.
Untuk menjaga kemajemukan ini, menurut Zulkifli, perlu ada kesadaran dan komitmen seluruh bangsa. "Seluruh warga bangsa agar menghormati kemajemukan bangsa Indonesia dan merawat Kebinekaan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata dia.
Menurut Zulkifli, memperingati lahirnya konstitusi dan menjadikan momentum untuk menjaga kebinekaan cukup penting. Kondisi masyarakat Indonesia yang beragam, kata dia, tetap tidak menghilangkan kewajiban untuk saling menghormati, dan saling menghargai.
Keragaman itu, menurut Zulkifli, bukan halangan tetapi sumber dari kreatifitas, sumber segala budaya nasional, sumber kekuatan. Ini harus dingat terus agar tujuan berbangsa Indonesia menjadi lurus. "Jangan lagi menjadi perdebatan yang tidak bermakna atau membuat gaduh atau membuat kita silang sengketa," ujarnya. (bpp/rep)
Selasa, 15 Agustus 2017
Panglima TNI: Asing Gunakan Isu Intoleransi Lemahkan Indonesia
Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, mengatakan negara asing sangat berkepentingan untuk melemahkan persatuan dan kesatuan Indonesia, serta memecah belah negeri. Negara asing, kata dia, menggunakan isu intoleransi untuk mencapai tujuannya tersebut.
Menurut dia, isu intoleransi dinilai sangat tepat untuk mengadu domba bangsa Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar dengan 17 ribu pulau, 34 provinsi, 714 suku dan 1.100 bahasa lokal. “Saat ini, benih-benih intoleransi sudah mulai dirasakan dan yang pasti didesain oleh pihak asing. Intoleransi merupakan cara untuk memecah belah Indonesia guna menguasai sumber daya alam yang melimpah. Inilah yang sekarang dihadapi bangsa Indonesia,” kata Gatot dalam siaran pers yang diterima Selasa (15/8).
Maka dari itu, kata Gatot, generasi muda Indonesia harus menjadi pelopor dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga dalam wadah NKRI.
Apalagi, berdasarkan sejarah dan antropologi budaya, bangsa Indonesia termasuk para pemudanya merupakan kumpulan ksatria dan patriot. Untuk itu, Gatot yakin bangsa Indonesia pasti utuh dan tidak mungkin terpecah-pecah selama para pemudanya mengamalkan Pancasila.
“Mari kita bersama-sama mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam sendi kehidupan sehingga generasi muda ikut berperan dalam menjaga kebineka tunggal ika-an serta persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Gatot. (rep)
Sabtu, 12 Agustus 2017
Sedan Lexus LS 500 Diluncurkan di Indonesia
Lexus Indonesia meluncurkan sedan flagship The Entirely-New LS 500 dalam gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 sebagai penampilan pertamanya di kawasan Asia.
"Lexus LS 500 diciptakan sebagai kendaraan yang mengekspresikan pengalaman yang luar biasa bagi pengendaranya," kata General Manager Lexus Indonesia Adrian Tirtadjaja saat perkenalan mobil ini di ICE - BSD City, Tangerang.
The Entirely-New LS 500 hadir menggantikan generasi sebelumnya pada tahun 2006. Dilengkapi dengan mesin 3,500 cc twin turbo dengan transmisi 10 percepatan terbaru yang menghasilkan 415 tenaga kuda.
Pada bagian eksterior, mobil Lexus LS ini tampil dengan konsep spindle design architecture yang dirancang khusus sehingga menghasilkan komposisi dimensi dan berat mobil ideal demi kelincahan dan kenyamanan.
The Entirely-New LS 500 dilengkapi juga dengan tampilan spindle grille terbaru, World 1st L-Shaped Rear Combination Lamps yang menghasilkan multi refleksi cahaya, dan World 1st Two Stage AHS Headlamps dengan desain lampu sorot atas dan bawah terbaru.
Salah satu keunikan dari generasi terbaru Lexus LS ini adalah unsur budaya Jepang yang semakin kental menghiasi interiornya seperti trim terbaru buatan tangan, kiriko yang terbuat dari seni instalasi kaca khas Jepang, doortrim handcrafted pleated yang dibuat dengan disain berlapis yang elegan, dan pola artwood terbaru khas Lexus.
Desain dasbor Lexus LS kini tampil dengan desain yang terinsipirasi alat musik petik khas Jepang, Koto. Terdapat pula andon-inspired illumination, seni lampu tradisional Jepang untuk sistem pencahayaan yang dapat melahirkan efek temaram menenangkan.
"Untuk sedan LS 500 yang dipasarkan di Indonesia adalah tipe terbaik, yakni LS 500L dan LS 500 hL (hybrid). Sengaja kami memilih dua tipe terbaik saja," kata Adrian. (sumber:antara)
Rabu, 09 Agustus 2017
Catatan pulang kampung-5 tentang Intoleransi yang jadi Sorotan
Imam Shamsi Ali*
Hari terakhir saya di Makassar adalah hari yang sangat padat. Di pagi hari, atas undangan Ibu rektor, saya memberikan ceramah halal bihalal di UIM atau Universitas Islam Makassar. Sewaktu saya masih di pesantren di tahun 80-an universitas ini berdiri kesepian di tengah persawahan yang biru. Saat itu lebih dikenal dengan nama Universitas Al-Ghazali.
Setelah acara Halal bihalal di UIM saya lanjut dengan pertemuan terbatas dengan beberapa teman lama. Sebuah kebahagiaan tersendiri bisa bernostalgia bersama teman-teman lama, membicarakan banyak hal, termasuk hal-hal membawa tawa di masa lalu.
Dari sana saya melanjutkan, sekali lagi atas undangan Ketua Pembina FKCA Bunda Majdah yang juga Rektor UIM tadi, saya diminta memberikan pengajian perdana FKCA di Rujab (rumah jabatan) Wakil Gubernur Sul-Sel. Bahagian kembali ke pengajian ini, karena nilai yang diusung oleh kelompok ini adalah nilai langit yang sangat mulia. Terlebih acara ini bertempat di rumah jabatan Wagub. Rumah jabatan yang terhubung selalu dengan sinar samawi.
Setelah pengajian perdana saya melanjutkan kembali bersama Bunda Majdah hadir dalam acara pernikahan salah seorang anggota FKCA Sul-Sel. Saya mendapat kehormatan memberikan nasehat perkawinan di acara tersebut.
Acara terakhir dan kelima saya hari itu adalah silaturrahim dan diskusi terbatas dengan beberapa guru dan aktifis yang dikoordinir oleh teman saya, sesama alumni IIU Pakistan KH Ramli Bakka. Beliau adalah pengasuh pondok pesantren "Shohqatul Is'ad" Pangkep.
Sebelum membicarakan konten ceramah saya hari itu, khususnya di UIM, saya juga ingin menyampaikan bahwa sehari sebelumnya saya menyampaikan khutbah dan ceramah umum di Al-Markaz al-Islami, salah satu masjid termegah di Asia Tenggara itu. Yang membahagiakan saya hari itu adalah karena saya diminta oleh pengurus masjid menuntun 5 orang muallaf mengikrarkan "syahadah" laa ilaah illallah-wa anna Muhammadan rasulullah". Sebuah kebahagiaan tiada tara bagi mereka yang memahaminya.
Kebanggan itu
Kembali ke acara halal bihalal di UIM di pagi hari itu, pada dasarnya saya menyampaikan banyak hal. Beberapa antaranta adalah sebagai berikut:
Pertama, bahwa sebagai putra daerah Sul Sel saya sangat bangga dengan Sulawesi Selatan. Berbagai alasan saya sampaikan. Tapi yang paling penting di antaranya adalah bahwa putra putri Makassar-Bugis adalah pelayar yang pantang mundur. Pelayaran yang mereka lakukan, tidak saja untuk memburu keuntungan duniawi. Tapi sejarah mencatat bahwa putra Bugis Makassar seperti Syeikh Yusuf Al-Makassari adalah pejuang dakwah hingga ke pelosok dunia. Beliau bahkan meninggal dan dimakamkan di Cape Town, Afrika Selatan.
Dan karenanya satu hal yang perlu dicatat bahwa di daerah ini Islam dan semangat keislaman tidak akan pernah bisa dipisahkan dari pembangunan daerah itu sendiri. Pembangunan material Sul-Sel tidak akan berhasil tanpa terbangun di atas nilai-nilai Islam yang memang menjadi darah daging bumi Sul Sel. Dan dengan sendirinya pemimpin daerah ini harusnya adalah seseorang yang memiliki komitmen keislaman yang tinggi.
Dalam hal ini saya menilai bahwa kerja keras yang tidak mengenal lelah dari Dr. Ir. Hj. Majdah M. Zain Agus Arifin Nu'man, Msi., berkeliling ke berbagai pelosok daerah daerah, ke desa-desa dan kampung-kampung menyebarkan cahaya Al-Quran melalui Forum Kajian Cinta Al-Quran, ke depan harus tetap menjadi pilar pembangunan daerah. Harapan saya memang semoga kerja keras ini dapat berlanjut bahkan lebih intens lagi sehingga Islam dan Al-Quran yang merupakan darah daging daerah ini semakin sehat dan subur.
Kedua, sebagai putra bangsa saya di mana-mana memang selalu menyampaikan bahwa sejauh saya berjalan, semakin saya bangga dengan bangsa dan negara Indonesia. Indonesia memang negara besar yang luar biasa. Saya tidak perlu mengulangi lagi kebanggaan saya karena kekayaan dan kecantikan alamnya. Tapi kali ini saya menyampaikan kebanggaan saya terhadap karakter manusianya yang toleran dan damai.
Ada asumsi umum yang berkembang bahwa orang-orang Islam itu tidak toleran kepada orang yang menganut agama lain. Sehingga sejujurnya memang akhir-akhir ini ada persepsi yang berkembang, atau tepatnya dikembangkan, bahwa Indonesia sedang mengalami ancaman intoleransi itu. Asumsi yang terbangun atau sengaja dbangun itu tidak saja di Indonesia, tapi juga di dunia internasional. Beberapa bulan yang lalu misalnya Wall Street menuliskan di halaman utama betapa Indonesia sedang mengalami degradasi toleransi yang mengkhawatirkan.
Tendensi ini sangat berbahaya karena akan menjadi gambaran umum tentang Indonesia. Dan dengan gambaran umum ini masyarakat luar akan menilai dan menentukan sikap terhadap Indonesia. Ketika Indonesia ditampilkan sebagai negara intoleran, maka dampaknya tidak saja dalam hubungan antar pemeluk agama. Tapi juga akan berdampak kepada bisnis dan investasi, turisme, dan seterusnya.
Di sinilah kemudian saya di mana-mana menyampaikan bahwa Indonesia sesungguhnya tidak terancam intoleransi. Justeru menurut saya yang terjadi adalah dinamika kehidupan bermasyarakat. Bahwa dalam relasi antar anggota masyarakat akan selalu ada riak-riak yang tumbuh. Tapi riak-riak itu bukanlah sebuah kesimpulan dari keadaan umum sebuah bangsa dan negara. Dan karenanya sebuah peristiwa politik, ambillah sebagai misal retorika kampanye politik harusnya tidak menjadi ukuran toleransi atau intoleransi sebuah bangsa dan negara.
Ketiga, kejadian-kejadian mutakhir, khususnya pasca pilkada DKI Jakarta selayaknya tidak menjadi dasar tuduhan intoleransi kepada Indonesia. Bahkan sebaliknya justeru peristiwa-peristiwa itu, terlepas dari penafsiran masing-masing tentang motif politiknya, adalah kebanggan nasional bangsa Indonesia.
Kenapa? Karena Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia tidak seperti yang diasumsikan oleh dunia luar. Bahwa negara-negara mayoritas Muslim selamanya tidak memiliki kebebasan ekspresi. Kenyataannya Muslim Indonesia ternyata bebas menyatakan pendapat dengan penuh kebebasan. Berarti asumsi bahwa negara-negara mayoritas Muslim itu tidak bebas, tertepis dengan kebebasan masyarakat Indonesia.
Hal adalah bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ternyata tidak anarkis. Sebaliknya sungguh sebuah kebanggaan bahwa bangsa Muslim terbesar ini mampu mengekspresikan diri terhadap sesuatu yang tidak disetujuinya melalui kebebasan berekspresi dalam kerangka demokrasi. Artinya, hal yang membanggakan sesunguhnya adalah ternyata demokrasi di Indonesia sebagai negara Muslim besar itu sangat hidup dan dinamis.
Lebih dari itu, protes yang dilakukan dengan jumlah massa yang besarnya luar biasa itu ternyata tidak destruktif. Sebaliknya aman, tertib, dan damai. Itu juga berarti bahwa dalam keadaan protes sekalipun, yang sudah pasti nuansanya ada kemarahan, Muslim Indonesia tetap tertib, aman dan damai. Berjuta-juta manusia keluar ke jalan-jalan tapi rumput pun tetap terjaga. Tak satu rumah ibadah orang lain yang diganggu. Tidak ada juga kepemilikan orang lain yang dirusak. Bayangkan saja jika aksi-aksi itu terjadi di negara lain, Pakistan misalnya.
Dari semua itu, tidakkah Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia justeru seharusnya dibanggakan? Bukan justeru dikampanyekan secara terbalik bahwa negara dan bangsa Indonesia sedang terancam intoleran dan kekerasan. Bahkan dibangun kekhawatiran besar jika Indonesia saat ini hampir terjatuh ke dalam konflik yang menghancurkan, bagaikan konflik Suriah.
Sayang memang, dunia kita lebih banyak diwarnai dan dibentuk oleh persepsi yang terbangun. Kenyataan atau realita terkadang hanyut dalam timbunan persepsi yang dibangun, khususnya oleh media. Demikian pulalah Indonesia saat ini.
Keesokan dini hari saya melanjutkan perjalanan ke kota Surabaya. Sebuah kota yang pernah saya kunjungi di penghujung tahun 1995 silam. (Bersambung)!
* Ustad Shamsi Ali adalah Presiden Nusantara Foundation
Langganan:
Postingan (Atom)












