Tampilkan postingan dengan label shamsi ali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shamsi ali. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Agustus 2017

Anti SARA atau Anti Agama?





Imam Shamsi Ali*
Sebuah diskusi cukup seru di salah Wassup group yang saya ikuti seputar penyebutan agama dan SARA. Sebagian anggotanya protes dan meminta agar agama tidak perlu disebut-sebut di group tersebut. Alasannya isu SARA adalah isu sensitif dan rentang menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Mereka khawatir kalau penyebutan agama di group itu bisa menyulut isu SARA.
Tapi haruskah demikian?
Saya melihat ada kesalah pahaman dalam memahami makna SARA itu sendiri. Seolah-olah penyebutan agama di kelompok yang ragam sudah dikategorikan SARA. Di sini saya menilai ada "over sensitivity" (sensitifitas berlebihan) yang menyebabkan terjadinya "over reaction" (reaksi berlebihan) terhadap isu SARA.
SARA tidak dimaksudkan sekedar menyebutkan atau melibatkan isu agama, ras dan suku dalam sebuah diskusi atau pembicaraan. Apakah SARA ketika saya membahas coto Mangkasara sebagai makanan khas Bugis Makassar? Tentu bukan. Justeru sangat positif untuk mempromosikan makanan-makanan khas Nusantara yang kebetulan saja berasal dari daerah saya Makassar.
SARA hanya terjadi ketika isu agama, ras atau suku itu dijadikan alat untuk menyerang, menjelekkan, menghina, merendahkan, dan yang semakna. Sebaliknya ketika agama, ras dan suku disebutkan tanpa tujuan menjelekkan atau menyerang orang lain, maka penyebutan atau pembicaraan itu tidak beralasan untuk dituduh sebagai SARA.
Menyampaikan agama secara positif, tanpa bermaksud memburukkan agama dan pemeluk agama lain justeru dalam pandangan saya positif. Kita hidup dalam dunia yang teracuni oleh materialisme dan sekularisme. Oleh karenanya menampilkan agama (Tuhan dan moralitas) adalah sesuatu yang positif. Dan dalam dunia yang didominasi oleh kekisruhan dan kekerasan, bukankah positif menyampaikan nilai-nilai agama masing-masing sebagai penyeimbang?
Alangkah indahnya ketika Islam ditampilkan dengan konsep perdamaian dan kasih sayang (rahmah). Agama Kristen dengan konsep cinta kasih (love). Agama Hindu dengan konsep tanpa kekerasan (non violence). Budha dengan konsep menghormati lingkungan (environment). Demikian seterusnya, tanpa memburukkan atau menyerang agama dan pemeluk agama lain.
Anti SARA atau anti agama?
Sensitifitas SARA ini justeru menumbuhkan kecurigaan di benak saya. Ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, kita anti penyebutan agama jika yang disebutkan itu kebetulan saja bukan agama kita. Tapi jika yang disebutkan atau didiskusikan itu adalah agama yang kita yakini dan puji, maka itu bukan SARA.
Sikap ketidak jujuran seperti ini bukan baru. Seringkali konsep-konsep hubungan antar manusia dipuji atau sebaliknya diburukkan berdasarkan kepentingan golongan sempit. Toleransi kita puji di saat masih berpihak ke kelompok kita sendiri. Tapi di saat toleransi berpihak ke orang lain, toleransi kita tampilkan sebagai intoleransi.
Kedua, yang paling saya khawatirkan dalam hal sensitifitas SARA ini justeru memang dibangun di atas dasar tendensi "anti agama". Kecenderungan yang kuat oleh sebagian dalam mengusung sekularisme, sesungguhnya menjadikan sebagian sadar atau tidak sensitif dengan pembahasan agama di ruang publik.
Dalam hal ini bukan karena penyebutan agama tertentu menganggu pemeluk agama lain yang menjadi masalah. Tapi masalahnya memang adalah karena tendensi "anti agama" itu sendiri. Sehingga pembahasan agama itu dituduh sebagai SARA. Dan sikap mereka dibalik dari anti agama menjadi seolah memperjuangkan nilai-nilai positif (toleransi).
Dalam dunia modern, dengan kemajuan sains dan teknologi khususnya di bidang informasi, agama memanh semakin termarjinalkan dalam kehidupan manusia, terutama di ranah publik. Bahkan terbangun persepsi kuat jika agama menjadi sumber berbagai masalah, termasuk kebodohan, keterbelakangan, kekerasan dan terorisme, dan berbagai penyakit dunia lainnya.
Minimnya kepercayaan (trust) kepada agama sebagai "sumber kebajikan (al-birr) dan kesalehan (righteousness) ini semakin menguat, khususnya di kalangan anak-anak muda dan lebih khusus lagi di kalangan dunia barat yang identik dengan kemajuan. Sehingga tidak mengherankan jika agama terbesar ketiga dunia kita saat ini adalah apa yang disebut: laa diniyah (agama tanppa agama).
Dalam sebuah penelitian oleh Pew baru-baru ini ditemukan bahwa agama terbesar pertama di dunia saat ini adalah Islam dengan jumlah sekitar 2.6 milyar manusia. Disusuk Katolik dengan jumlah sekitar 1.2 milyar, lalu Protestan sekitar 900 juta manusia. Dan agama terbesar ketiga adalah agama "tanpa agama" tadi.
Penampakan agama secara negatif dan brutal, khususnya agama Islam, akhir-akhir ini dan kampanye konsep-konsep yang secara terang-terangan mendukung konsep-konsep anti agama (moralitas) jelas dicurigai sebagai kampanye terbuka anti agama.
Dan di sini pula saya wajar saja curiga jika sensitifitas SARA itu adalah bagian dari propaganda ini.
Jangan salah paham. Saya anti SARA. Saya menolak pemburuk-burukkan agama dan pemeluk agama siapa saja. Tapi saya mendukung promosi nilai-nilai agama dalam kehidupa manusia, termasuk di ranah publik.
Dan jangan berpura-pura tidak tahu. Negara sesekuler Amerika saja tidak akan bisa menghindari diskusi-diskusi publik mengenai agama. Bahkan salah satu topik terhangat dalam perdebatan kandidat politik, termasuk presiden, adalah isu agama (baca Islam).
Maka, benarkah obyeksi sebagian orang untuk membicarakan agama karena masalah SARA? Atau memang karena kebetulan pembahasan itu tidak memihak pada dirinya? Atau mungkin saja karena memang itu adalah bukti nyata bahwa agama saat ini memang sudah menjadi momok yang menakutkan? Wallahu a'lam!
New York, 27 Juli 2017
* Shamsi Ali adalah Presiden Nusantara Foundation

Rabu, 09 Agustus 2017

Catatan pulang kampung-5 tentang Intoleransi yang jadi Sorotan




Imam Shamsi Ali*
Hari terakhir saya di Makassar adalah hari yang sangat padat. Di pagi hari, atas undangan Ibu rektor, saya memberikan ceramah halal bihalal di UIM atau Universitas Islam Makassar. Sewaktu saya masih di pesantren di tahun 80-an universitas ini berdiri kesepian di tengah persawahan yang biru. Saat itu lebih dikenal dengan nama Universitas Al-Ghazali.
Setelah acara Halal bihalal di UIM saya lanjut dengan pertemuan terbatas dengan beberapa teman lama. Sebuah kebahagiaan tersendiri bisa bernostalgia bersama teman-teman lama, membicarakan banyak hal, termasuk hal-hal membawa tawa di masa lalu.
Dari sana saya melanjutkan, sekali lagi atas undangan Ketua Pembina FKCA Bunda Majdah yang juga Rektor UIM tadi, saya diminta memberikan pengajian perdana FKCA di Rujab (rumah jabatan) Wakil Gubernur Sul-Sel. Bahagian kembali ke pengajian ini, karena nilai yang diusung oleh kelompok ini adalah nilai langit yang sangat mulia. Terlebih acara ini bertempat di rumah jabatan Wagub. Rumah jabatan yang terhubung selalu dengan sinar samawi.
Setelah pengajian perdana saya melanjutkan kembali bersama Bunda Majdah hadir dalam acara pernikahan salah seorang anggota FKCA Sul-Sel. Saya mendapat kehormatan memberikan nasehat perkawinan di acara tersebut.
Acara terakhir dan kelima saya hari itu adalah silaturrahim dan diskusi terbatas dengan beberapa guru dan aktifis yang dikoordinir oleh teman saya, sesama alumni IIU Pakistan KH Ramli Bakka. Beliau adalah pengasuh pondok pesantren "Shohqatul Is'ad" Pangkep.
Sebelum membicarakan konten ceramah saya hari itu, khususnya di UIM, saya juga ingin menyampaikan bahwa sehari sebelumnya saya menyampaikan khutbah dan ceramah umum di Al-Markaz al-Islami, salah satu masjid termegah di Asia Tenggara itu. Yang membahagiakan saya hari itu adalah karena saya diminta oleh pengurus masjid menuntun 5 orang muallaf mengikrarkan "syahadah" laa ilaah illallah-wa anna Muhammadan rasulullah". Sebuah kebahagiaan tiada tara bagi mereka yang memahaminya.
Kebanggan itu
Kembali ke acara halal bihalal di UIM di pagi hari itu, pada dasarnya saya menyampaikan banyak hal. Beberapa antaranta adalah sebagai berikut:
Pertama, bahwa sebagai putra daerah Sul Sel saya sangat bangga dengan Sulawesi Selatan. Berbagai alasan saya sampaikan. Tapi yang paling penting di antaranya adalah bahwa putra putri Makassar-Bugis adalah pelayar yang pantang mundur. Pelayaran yang mereka lakukan, tidak saja untuk memburu keuntungan duniawi. Tapi sejarah mencatat bahwa putra Bugis Makassar seperti Syeikh Yusuf Al-Makassari adalah pejuang dakwah hingga ke pelosok dunia. Beliau bahkan meninggal dan dimakamkan di Cape Town, Afrika Selatan.
Dan karenanya satu hal yang perlu dicatat bahwa di daerah ini Islam dan semangat keislaman tidak akan pernah bisa dipisahkan dari pembangunan daerah itu sendiri. Pembangunan material Sul-Sel tidak akan berhasil tanpa terbangun di atas nilai-nilai Islam yang memang menjadi darah daging bumi Sul Sel. Dan dengan sendirinya pemimpin daerah ini harusnya adalah seseorang yang memiliki komitmen keislaman yang tinggi.
Dalam hal ini saya menilai bahwa kerja keras yang tidak mengenal lelah dari Dr. Ir. Hj. Majdah M. Zain Agus Arifin Nu'man, Msi., berkeliling ke berbagai pelosok daerah daerah, ke desa-desa dan kampung-kampung menyebarkan cahaya Al-Quran melalui Forum Kajian Cinta Al-Quran, ke depan harus tetap menjadi pilar pembangunan daerah. Harapan saya memang semoga kerja keras ini dapat berlanjut bahkan lebih intens lagi sehingga Islam dan Al-Quran yang merupakan darah daging daerah ini semakin sehat dan subur.
Kedua, sebagai putra bangsa saya di mana-mana memang selalu menyampaikan bahwa sejauh saya berjalan, semakin saya bangga dengan bangsa dan negara Indonesia. Indonesia memang negara besar yang luar biasa. Saya tidak perlu mengulangi lagi kebanggaan saya karena kekayaan dan kecantikan alamnya. Tapi kali ini saya menyampaikan kebanggaan saya terhadap karakter manusianya yang toleran dan damai.
Ada asumsi umum yang berkembang bahwa orang-orang Islam itu tidak toleran kepada orang yang menganut agama lain. Sehingga sejujurnya memang akhir-akhir ini ada persepsi yang berkembang, atau tepatnya dikembangkan, bahwa Indonesia sedang mengalami ancaman intoleransi itu. Asumsi yang terbangun atau sengaja dbangun itu tidak saja di Indonesia, tapi juga di dunia internasional. Beberapa bulan yang lalu misalnya Wall Street menuliskan di halaman utama betapa Indonesia sedang mengalami degradasi toleransi yang mengkhawatirkan.
Tendensi ini sangat berbahaya karena akan menjadi gambaran umum tentang Indonesia. Dan dengan gambaran umum ini masyarakat luar akan menilai dan menentukan sikap terhadap Indonesia. Ketika Indonesia ditampilkan sebagai negara intoleran, maka dampaknya tidak saja dalam hubungan antar pemeluk agama. Tapi juga akan berdampak kepada bisnis dan investasi, turisme, dan seterusnya.
Di sinilah kemudian saya di mana-mana menyampaikan bahwa Indonesia sesungguhnya tidak terancam intoleransi. Justeru menurut saya yang terjadi adalah dinamika kehidupan bermasyarakat. Bahwa dalam relasi antar anggota masyarakat akan selalu ada riak-riak yang tumbuh. Tapi riak-riak itu bukanlah sebuah kesimpulan dari keadaan umum sebuah bangsa dan negara. Dan karenanya sebuah peristiwa politik, ambillah sebagai misal retorika kampanye politik harusnya tidak menjadi ukuran toleransi atau intoleransi sebuah bangsa dan negara.
Ketiga, kejadian-kejadian mutakhir, khususnya pasca pilkada DKI Jakarta selayaknya tidak menjadi dasar tuduhan intoleransi kepada Indonesia. Bahkan sebaliknya justeru peristiwa-peristiwa itu, terlepas dari penafsiran masing-masing tentang motif politiknya, adalah kebanggan nasional bangsa Indonesia.
Kenapa? Karena Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia tidak seperti yang diasumsikan oleh dunia luar. Bahwa negara-negara mayoritas Muslim selamanya tidak memiliki kebebasan ekspresi. Kenyataannya Muslim Indonesia ternyata bebas menyatakan pendapat dengan penuh kebebasan. Berarti asumsi bahwa negara-negara mayoritas Muslim itu tidak bebas, tertepis dengan kebebasan masyarakat Indonesia.
Hal adalah bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ternyata tidak anarkis. Sebaliknya sungguh sebuah kebanggaan bahwa bangsa Muslim terbesar ini mampu mengekspresikan diri terhadap sesuatu yang tidak disetujuinya melalui kebebasan berekspresi dalam kerangka demokrasi. Artinya, hal yang membanggakan sesunguhnya adalah ternyata demokrasi di Indonesia sebagai negara Muslim besar itu sangat hidup dan dinamis.
Lebih dari itu, protes yang dilakukan dengan jumlah massa yang besarnya luar biasa itu ternyata tidak destruktif. Sebaliknya aman, tertib, dan damai. Itu juga berarti bahwa dalam keadaan protes sekalipun, yang sudah pasti nuansanya ada kemarahan, Muslim Indonesia tetap tertib, aman dan damai. Berjuta-juta manusia keluar ke jalan-jalan tapi rumput pun tetap terjaga. Tak satu rumah ibadah orang lain yang diganggu. Tidak ada juga kepemilikan orang lain yang dirusak. Bayangkan saja jika aksi-aksi itu terjadi di negara lain, Pakistan misalnya.
Dari semua itu, tidakkah Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia justeru seharusnya dibanggakan? Bukan justeru dikampanyekan secara terbalik bahwa negara dan bangsa Indonesia sedang terancam intoleran dan kekerasan. Bahkan dibangun kekhawatiran besar jika Indonesia saat ini hampir terjatuh ke dalam konflik yang menghancurkan, bagaikan konflik Suriah.
Sayang memang, dunia kita lebih banyak diwarnai dan dibentuk oleh persepsi yang terbangun. Kenyataan atau realita terkadang hanyut dalam timbunan persepsi yang dibangun, khususnya oleh media. Demikian pulalah Indonesia saat ini.
Keesokan dini hari saya melanjutkan perjalanan ke kota Surabaya. Sebuah kota yang pernah saya kunjungi di penghujung tahun 1995 silam. (Bersambung)!
* Ustad Shamsi Ali adalah Presiden Nusantara Foundation