Kamis, 10 Agustus 2017

Inilah Empat Keuntungan Menyimpan Buah dan Sayur Beku




Buah dan sayur paling baik dibeli dan dikonsumsi dalam keadaan segar. Meski begitu, membeli buah dan sayur dalam keadaan beku juga dapat memberi keuntungan tersendiri.

Ahli gizi Cynthia Sass mengatakan pembelian buah dan sayur beku dapat membantu meningkatkan asupan buah dan sayur sesuai rekomendasi lima porsi sehari. Hal ibi diketahui Sass melalui observasi yang ia lakukan terhadap para kliennya.

Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang kerap membeli buah dan sayur beku cenderung mengonsunsi buah dan sayur lebih banyak dibanding orang-orang yang tidak terbiasa menyetok buah dan sayur beku. Orang-orang yang terbiasa memiliki simpanan buah dan sayur beku juga cenderung memiliki massa indeks tubuh (MIT) yang lebih rendah serta konsumsi kalium, serat, kalsium dan vitamin D yang lebih banyak.

"Temuan ini masuk akal bagi saya karena alasan bahwa produk beku dapat dikonsumsi dengan lebih mudah," kata Sass seperti dilansir laman Health.

Selain tak perlu dicuci, dikupas ataupun dipotong, buah atau sayuran beku juga cenderung lebih tahan lama. Tak hanya itu, penelitian yang dilakukan oleh Leatherhead Food Research dan University of Chester juga menunjukkan bahwa kandubgan nutrisi pada buah dan sayur beku tidak berbeda dengan buah dan sayur yang disimpan di kulkas biasa selama tiga hari.

"Untuk semua kenyamanan (buah dan sayur beku) ini, Anda tidak 'mengorbankan' nutrisi apapun," tambah Sass.

Keuntungan lainnya adalah buah dan sayur beku memiliki harga yang lebih murah. Bahkan untuk sayuran hijau beku harga jualnya bisa setengah kali lebih rendah dibandingkan sayuran hijau biasa.

Sass menegaskan bahwa ia tak bermaksud untuk menyarankan agar semua orang beralih dari sayur dan buah segar ke sayur dan buah beku. Sass mengatakan sayur dan buah beku hanya salah satu alternatif dalam menjaga agar asupan sayur dan buah sesuai rekomendasi yaitu lima porsi per hari. Oleh karena itu, konsumsi sayur dan buah segar juga boleh dipilih jika asupan lima porsi sayur dan buah per hari tetap terjaga.

"Anggap produk beku ini sebagai pelengkap dari makanan segar," terang Sass.

Sass membagi enam cara menikmati buah dan sayur beku dengan lebih nikmat. Salah satu caranya, buah beku seperti cherry ataupun berry bisa dicampur dengan sayuran hijau beku untuk dijadikan smoothie.

Sayuran beku juga bisa diolah dengan cara ditumis dalam kaldu sayur rendah sodium. Tumisan ini bisa dicampur dengan bawang putih, herbal maupun rempah. Tumisan sayur ini bisa disajikan sebagai pendamping hidangan daging.

Sayuran beku juga bisa dikukus terlebih dahulu sebelum diolah dengan campuran lain. Beberapa campuran tersebut di antaranya pesto dan tapenade zaitun.

Membuat sop sayur dari sayuran beku juga cukup mudah dilakukan. Cukup tumis sayuran beku di dalam panci kecil bersama dengan minyak zaitun, bawang putih dan rempah. Setelahnya, tambahkan kaldu dan biarkan rebusan hingga mendidih. Setelah mendidih kecilkan api dan biarkan masakan selama 10 menit. Sajian ini bisa dihidangkan bersama kacabg-kacangan, kacang polong maupun buncis.

Buah beku juga bisa diolah menjadi hidangan lezat dan mudah. Cukup keluarkan buah beku dari freezer dan diamkan buah tersebut dalam suhu ruangan sampai tekstur buah kembali normal. Campur buah dengan oatmeal, yogurt serta salad kemudian masak campuran tersebut sebelum dihidangkan.

Buah cherry, berry atau perdik beku juga bisa ditumis dengan air lemon dan jahe segar. Setelahnya, taburkan remahan kacang almond yang telah dicampur kayu manis, sirup maple serta oat sebagai taburan.(rep)

Yaman Darurat Kolera





Yaman telah mempersiapkan rencana darurat guna melanjutkan perjuangan melawan kolera di tengah peningkatan sistem sanitasi, dan menyediakan air bersih serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai wabah itu, kata beberapa pejabat pada Selasa (8/8/2017).

Jumlah korban meninggal akibat kolera naik jadi 1.940 dan kasus dugaan menjadi 463.000 pada Minggu, kata Abdulhakim Al-Kuhlani, Juru Bicara bagi Kementerian Kependudukan dan Kesehatan Masyarakat di Sanaa.

"Kami memiliki rencana darurat nasional yang dipusatkan pada peningkatan pengawasan wabah, penyediaan tim reaksi luas dan obat yang diperlukan, dan pembukaan pusat perawatan di seluruh republik ini," kata Al-Kuhlani.

baca juga :Waspada Wabah Kolera di Yaman

Juru bicara Kementerian Kesehatan itu di bawah pemerintah yang sah di Aden, Mohammed Mustafa Yasin, mengatakan rencana mereka dipusatkan pada kebersihan lingkungan hidup.

"Berbagai upaya untuk mengendalikan kolera memerlukan kerja sama di kalangan semua sektor, seperti Kementerian Kesehatan, dana kebersihan, masyarakat sipil dan media," Yassin menjelaskan, sebagaimana dikutip Xinhua.  

"Kami juga melancarkan kegiatan pendidikan kesehatan dari-rumah-ke-rumah."

Lebih dari satu juta anak yang menderita gizi buruk akut, termasuk hampir 200.000 menderita gizi buruk sangat akut, terjebak di daerah yang paling parah dilanda wabah kolera mematikan, demikian peringatan Save the Children pekan lalu.

Para pejabat Yaman mengatakan jumlah kasus dugaan per hari telah merosot sedikit dalam beberapa pekan belakangan di beberapa daerah berkat campur-tangan yang cepat dan efektif.

"Di Aden, kami sekarang menerima puluhan kasus dugaan per hari. Dalam beberapa bulan pertama wabah tersebut, kami menerima ratusan kasus dugaan per hari," kata Yasin. 

"Berita baiknya tetap bahwa 99,6 persen kasus dugaan dapat diobati."

Ambruknya sistem kebersihan dan kesehatan, rusaknya prasarana air dan gizi, semua konsekuensi langsung akibat perang yang terus berkecamuk selama lebih dari dua setengah tahun, membuat rakyat makin rentan terhadap kolera, kata lembaga bantuan. Mereka menyerukan ditingkatkannya bantuan buat negara Arab itu untuk melawan kolera (ant).

Inilah Empat Makanan Kaya Serat






Buah apel merupakan sumber serat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk memperlancar pencernaan. Apel memiliki kandungan serat sebanyak 4,4 gram, untuk ukuran sedang.

Namun, ada beberapa makanan yang ternyata mengandung serat melebihi apel. Berikut empat makanan yang memiliki kandungan serat melebihi apel, dilansir dari laman Women's Health, Senin (8/6/2017).

1. Kacang arab

Secangkir kacang arab mengandung 16 gram serat. Itu artinya, empat kali lipat dari serat dalam apel.

2. Alpukat

Setengah dari satu alpukat berisi 6,75 gram serat. Anda dapat mengonsumsinya mentah atau bisa kamu buat selai untuk menemani menikmati roti panggang.

3. Kacang tanah

Setengah cangkir kacang tanah memiliki 6,2 gram serat.

4. Buah pir

Buah pir memiliki kadar serat sebanyak 5,5 gram untuk satu buahnya. Anda dapat mengkonsumsi buah kaya serat ini secara mentah atau dalam bentuk olahan. (rep)

Rabu, 09 Agustus 2017

Inilah Salah Satu Tips Menghafal Al Qur'an




Menghafal Al Qur'an adalah dambaan umat Islam. Tetapi karena suatu hal sering terhalang dalam mengfapal Al Qur'an. Untuk mengatasi hal ini, banyak tips dibuat agar dapat mudah menghafal Al Qur'an.

Ini adalah beberapa tips menghafal Al Qur"an:

1⃣ Ikhlas karena Allah Ta'ala

Jadikanlah niat dan tujuanmu menghafal adalah untuk bertaqarrub(mendekatkan diri) kepada Allah ta’ala.

Waspadalah!!!! jangan karena motivasimu ingin mendapatkan kedudukan di tengah manusia, atau mendapatkan penghasilan harta, honor dan penghargaan, karena Allah tidak akan menerima suatu amalan ibadah kecuali dengan niat yang murni dan ikhlas karenaNya.

2⃣ Menjauhkan diri dari berbagai bentuk perbuatan maksiat dan dosa

3⃣ Memanfaatkan kesempatan,menghafal Al-Qur'an sejak usia muda

Karena anak kecil hatinya masih kosong dan minim dari kesibukan, tapi itu bukan berarti orang yang sudah tua tidak bisa menghafal Al-Qur'an.

Hanya saja lebih utama,menghafal dari usia sejak dini.

4⃣ Memanfaatkan waktu-waktu kosong, dan tidak menghafal pada waktu lelah atau ketika pikiran sedang sibuk dengan urusan apa saja, karena bisa menghalangi konsentrasi hafalan.

Alangkah baiknya kalau memilih waktu setelah sholat shubuh, itu waktu yang paling bermamfaat bagi yang tidur awal.(tidur setelah isya,sebelum jam 9 malam)

5⃣ Memilih tempat yang tepat untuk menghafal dan muraja’ah yaitu tempat yang jauh dari keramaian, karena hal tersebut bisa memecah konsentrasi pikiran.

6⃣ Hanya menggunakan satu jenis mushaf Al-Qur'an saja.

Di utamakan memilih cetakan mushaf khusus untuk mushaf penghafal Al-Qur'an.

7⃣ Jangan berganti-ganti mushaf Al-Qur'an.

Di sarankan jangan pernah berganti-ganti mushaf, karena akan menimbulkan terbentuknya berbagai macam bentuk tulisan dalam ingatan dan hal tersebut bisa menghilangkan konsentrasi dan mengacaukan hafalan.

8⃣ Mengoreksikan bacaan Al-Qur'an kepada seorang guru yang ahli dalam ilmu tajwid serta memahami arti serta makna ayat yang akan dihafalkan.

Ini sangat membantu untuk membuat kita mudah mengingatnya dan mudah dalam menghafalnya, dan akan membuat hafalan kita lebih melekat.

Catatan pulang kampung-5 tentang Intoleransi yang jadi Sorotan




Imam Shamsi Ali*
Hari terakhir saya di Makassar adalah hari yang sangat padat. Di pagi hari, atas undangan Ibu rektor, saya memberikan ceramah halal bihalal di UIM atau Universitas Islam Makassar. Sewaktu saya masih di pesantren di tahun 80-an universitas ini berdiri kesepian di tengah persawahan yang biru. Saat itu lebih dikenal dengan nama Universitas Al-Ghazali.
Setelah acara Halal bihalal di UIM saya lanjut dengan pertemuan terbatas dengan beberapa teman lama. Sebuah kebahagiaan tersendiri bisa bernostalgia bersama teman-teman lama, membicarakan banyak hal, termasuk hal-hal membawa tawa di masa lalu.
Dari sana saya melanjutkan, sekali lagi atas undangan Ketua Pembina FKCA Bunda Majdah yang juga Rektor UIM tadi, saya diminta memberikan pengajian perdana FKCA di Rujab (rumah jabatan) Wakil Gubernur Sul-Sel. Bahagian kembali ke pengajian ini, karena nilai yang diusung oleh kelompok ini adalah nilai langit yang sangat mulia. Terlebih acara ini bertempat di rumah jabatan Wagub. Rumah jabatan yang terhubung selalu dengan sinar samawi.
Setelah pengajian perdana saya melanjutkan kembali bersama Bunda Majdah hadir dalam acara pernikahan salah seorang anggota FKCA Sul-Sel. Saya mendapat kehormatan memberikan nasehat perkawinan di acara tersebut.
Acara terakhir dan kelima saya hari itu adalah silaturrahim dan diskusi terbatas dengan beberapa guru dan aktifis yang dikoordinir oleh teman saya, sesama alumni IIU Pakistan KH Ramli Bakka. Beliau adalah pengasuh pondok pesantren "Shohqatul Is'ad" Pangkep.
Sebelum membicarakan konten ceramah saya hari itu, khususnya di UIM, saya juga ingin menyampaikan bahwa sehari sebelumnya saya menyampaikan khutbah dan ceramah umum di Al-Markaz al-Islami, salah satu masjid termegah di Asia Tenggara itu. Yang membahagiakan saya hari itu adalah karena saya diminta oleh pengurus masjid menuntun 5 orang muallaf mengikrarkan "syahadah" laa ilaah illallah-wa anna Muhammadan rasulullah". Sebuah kebahagiaan tiada tara bagi mereka yang memahaminya.
Kebanggan itu
Kembali ke acara halal bihalal di UIM di pagi hari itu, pada dasarnya saya menyampaikan banyak hal. Beberapa antaranta adalah sebagai berikut:
Pertama, bahwa sebagai putra daerah Sul Sel saya sangat bangga dengan Sulawesi Selatan. Berbagai alasan saya sampaikan. Tapi yang paling penting di antaranya adalah bahwa putra putri Makassar-Bugis adalah pelayar yang pantang mundur. Pelayaran yang mereka lakukan, tidak saja untuk memburu keuntungan duniawi. Tapi sejarah mencatat bahwa putra Bugis Makassar seperti Syeikh Yusuf Al-Makassari adalah pejuang dakwah hingga ke pelosok dunia. Beliau bahkan meninggal dan dimakamkan di Cape Town, Afrika Selatan.
Dan karenanya satu hal yang perlu dicatat bahwa di daerah ini Islam dan semangat keislaman tidak akan pernah bisa dipisahkan dari pembangunan daerah itu sendiri. Pembangunan material Sul-Sel tidak akan berhasil tanpa terbangun di atas nilai-nilai Islam yang memang menjadi darah daging bumi Sul Sel. Dan dengan sendirinya pemimpin daerah ini harusnya adalah seseorang yang memiliki komitmen keislaman yang tinggi.
Dalam hal ini saya menilai bahwa kerja keras yang tidak mengenal lelah dari Dr. Ir. Hj. Majdah M. Zain Agus Arifin Nu'man, Msi., berkeliling ke berbagai pelosok daerah daerah, ke desa-desa dan kampung-kampung menyebarkan cahaya Al-Quran melalui Forum Kajian Cinta Al-Quran, ke depan harus tetap menjadi pilar pembangunan daerah. Harapan saya memang semoga kerja keras ini dapat berlanjut bahkan lebih intens lagi sehingga Islam dan Al-Quran yang merupakan darah daging daerah ini semakin sehat dan subur.
Kedua, sebagai putra bangsa saya di mana-mana memang selalu menyampaikan bahwa sejauh saya berjalan, semakin saya bangga dengan bangsa dan negara Indonesia. Indonesia memang negara besar yang luar biasa. Saya tidak perlu mengulangi lagi kebanggaan saya karena kekayaan dan kecantikan alamnya. Tapi kali ini saya menyampaikan kebanggaan saya terhadap karakter manusianya yang toleran dan damai.
Ada asumsi umum yang berkembang bahwa orang-orang Islam itu tidak toleran kepada orang yang menganut agama lain. Sehingga sejujurnya memang akhir-akhir ini ada persepsi yang berkembang, atau tepatnya dikembangkan, bahwa Indonesia sedang mengalami ancaman intoleransi itu. Asumsi yang terbangun atau sengaja dbangun itu tidak saja di Indonesia, tapi juga di dunia internasional. Beberapa bulan yang lalu misalnya Wall Street menuliskan di halaman utama betapa Indonesia sedang mengalami degradasi toleransi yang mengkhawatirkan.
Tendensi ini sangat berbahaya karena akan menjadi gambaran umum tentang Indonesia. Dan dengan gambaran umum ini masyarakat luar akan menilai dan menentukan sikap terhadap Indonesia. Ketika Indonesia ditampilkan sebagai negara intoleran, maka dampaknya tidak saja dalam hubungan antar pemeluk agama. Tapi juga akan berdampak kepada bisnis dan investasi, turisme, dan seterusnya.
Di sinilah kemudian saya di mana-mana menyampaikan bahwa Indonesia sesungguhnya tidak terancam intoleransi. Justeru menurut saya yang terjadi adalah dinamika kehidupan bermasyarakat. Bahwa dalam relasi antar anggota masyarakat akan selalu ada riak-riak yang tumbuh. Tapi riak-riak itu bukanlah sebuah kesimpulan dari keadaan umum sebuah bangsa dan negara. Dan karenanya sebuah peristiwa politik, ambillah sebagai misal retorika kampanye politik harusnya tidak menjadi ukuran toleransi atau intoleransi sebuah bangsa dan negara.
Ketiga, kejadian-kejadian mutakhir, khususnya pasca pilkada DKI Jakarta selayaknya tidak menjadi dasar tuduhan intoleransi kepada Indonesia. Bahkan sebaliknya justeru peristiwa-peristiwa itu, terlepas dari penafsiran masing-masing tentang motif politiknya, adalah kebanggan nasional bangsa Indonesia.
Kenapa? Karena Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia tidak seperti yang diasumsikan oleh dunia luar. Bahwa negara-negara mayoritas Muslim selamanya tidak memiliki kebebasan ekspresi. Kenyataannya Muslim Indonesia ternyata bebas menyatakan pendapat dengan penuh kebebasan. Berarti asumsi bahwa negara-negara mayoritas Muslim itu tidak bebas, tertepis dengan kebebasan masyarakat Indonesia.
Hal adalah bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ternyata tidak anarkis. Sebaliknya sungguh sebuah kebanggaan bahwa bangsa Muslim terbesar ini mampu mengekspresikan diri terhadap sesuatu yang tidak disetujuinya melalui kebebasan berekspresi dalam kerangka demokrasi. Artinya, hal yang membanggakan sesunguhnya adalah ternyata demokrasi di Indonesia sebagai negara Muslim besar itu sangat hidup dan dinamis.
Lebih dari itu, protes yang dilakukan dengan jumlah massa yang besarnya luar biasa itu ternyata tidak destruktif. Sebaliknya aman, tertib, dan damai. Itu juga berarti bahwa dalam keadaan protes sekalipun, yang sudah pasti nuansanya ada kemarahan, Muslim Indonesia tetap tertib, aman dan damai. Berjuta-juta manusia keluar ke jalan-jalan tapi rumput pun tetap terjaga. Tak satu rumah ibadah orang lain yang diganggu. Tidak ada juga kepemilikan orang lain yang dirusak. Bayangkan saja jika aksi-aksi itu terjadi di negara lain, Pakistan misalnya.
Dari semua itu, tidakkah Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia justeru seharusnya dibanggakan? Bukan justeru dikampanyekan secara terbalik bahwa negara dan bangsa Indonesia sedang terancam intoleran dan kekerasan. Bahkan dibangun kekhawatiran besar jika Indonesia saat ini hampir terjatuh ke dalam konflik yang menghancurkan, bagaikan konflik Suriah.
Sayang memang, dunia kita lebih banyak diwarnai dan dibentuk oleh persepsi yang terbangun. Kenyataan atau realita terkadang hanyut dalam timbunan persepsi yang dibangun, khususnya oleh media. Demikian pulalah Indonesia saat ini.
Keesokan dini hari saya melanjutkan perjalanan ke kota Surabaya. Sebuah kota yang pernah saya kunjungi di penghujung tahun 1995 silam. (Bersambung)!
* Ustad Shamsi Ali adalah Presiden Nusantara Foundation

Selasa, 08 Agustus 2017

Menlu ASEAN Tolak Reklamasi dan Pengerahan Militer di LCS




Para menteri luar negeri negara anggota ASEAN kembali menegaskan penolakan mereka atas reklamasi lahan dan pengerahan militer di Laut China Selatan.

"Kami mendiskusikan masalah Laut China Selatan dan mencatat kekhawatiran sejumlah menteri atas reklamasi lahan dan kegiatan di daerah tersebut, yang melunturkan kepercayaan, meningkatkan ketegangan, dan membahayakan perdamaian, keamanan, dan stabilitas kawasan," demikian bunyi Komunike Bersama Menlu ASEAN.

Melanjutkan pernyataan mereka dalam komunike yang disepakati dalam pertemuan ASEAN di Manila tersebut, para menlu menulis, "Kami menekankan pentingnya non-militerisasi dan menahan diri dalam melakukan semua aktivitas oleh pihak pengklaim dan negara lainnya."

Sebagaimana dilansir CNN Philippines, pernyataan itu merujuk pada pembangunan pulau buatan China di perairan sengketa, termasuk Mischief Reef yang diperebutkan oleh Beijing dan Manila. China juga membangun daratan di Woody Island, di perairan yang diperebutkan oleh Beijing dan Vietnam.

Isi komunike ini sesuai dengan pernyataan Sekretaris Jenderal ASEAN, Le Luong Minh, yang berasal dari Vietnam. Dalam wawancara dengan 
CNN Philippines sebelumnya, Minh mengatakan bahwa negaranya akan menekankan pentingnya pembahasan mengenai reklamasi ini dalam komunike.

Sejumlah laporan yang beredar sebelumnya menyebutkan, Vietnam sempat melakukan lobi agar bahasa dalam komunike itu dipertegas, mengingat mereka merupakan salah satu negara yang merasa dirugikan.

Selain Filipina dan Vietnam, negara ASEAN lain, yaitu Brunei dan Malaysia, juga terlibat sengketa di Laut China Selatan. 

Para pengklaim wilayah ini sempat mengkritik pernyataan Ketua dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN pada April lalu karena terkesan terlalu lembek ketika menyebut "proses diplomatik dan hukum" untuk penyelesaian masalah sengketa. (sumber: CNN Indonesia
)

Senin, 07 Agustus 2017

THE SCARY KHILAFAH





Oleh: Emha Ainun Nadjib
Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah.
Maka pekerjaan utama sejarah dunia adalah: dengan segala cara memecah belah Kaum Muslimin. Kemudian, melalui pendidikan, media dan uang, membuat Ummat Islam tidak percaya kepada Khilafah, AlQur`an dan Islam. Puncak sukses peradaban dunia adalah kalau Kaum Muslimin, dengan hati dan pikirannya, sudah memusuhi Khilafah. Hari ini di mata dunia, bahkan di pandangan banyak Kaum Muslimin sendiri: Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme. Bahkan kepada setan dan iblis, manusia tidak setakut kepada Khilafah.
Perkenankan saya mundur dua langkah dan mencekung ke spektrum kecil. Juga maaf-maaf saya menulis lagi tentang Khilafah. Ini tahadduts binni’mah, berbagi kenikmatan. Banyak hal yang membuat saya panèn hikmah, pengetahuan, ilmu dan berkah. Misalnya saya tidak tega kepada teman-teman yang mengalami defisit masa depan karena kalap dan menghardik dan mengutuk-ngutuk tanpa kelengkapan pengetahuan. Sementara saya yang memetik laba ilmu dan berkahnya.
Ummat manusia sudah berabad-abad melakukan penelitian atas alam dan kehidupan. Maka mereka takjub dan mengucapkan “Robbana ma kholaqta hadza bathila”. Wahai Maha Pengasuh, seungguh tidak sia-sia Engkau menciptakan semua ini. Bahkan teletong Sapi, menjadi pupuk. Sampah-sampah alam menjadi rabuk. Timbunan batu-batu menjadi mutiara. Penjajahan melahirkan kemerdekaan. Kejatuhan menghasilkan kebangkitan. Penderitaan memberi pelajaran tentang kebahagiaan.
Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah. Tidak tega mensimulasikan nasibnya di depan Tuhan. Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia. Komponen penyaringnya dol: anti HTI berarti anti Khilafah. Lantas menyembunyikan pengetahuan bahwa anti Khilafah adalah anti Tuhan. “Inni ja’ilun fil ardli khalifah”. Sesungguhnya aku mengangkat Khalifah di bumi. Ketika menginformasikan kepada para staf-Nya tentang makhluk yang Ia ciptakan sesudah Malaikat, jagat raya, Jin dan Banujan, yang kemudian Ia lantik – Tuhan tidak menyebutnya dengan “Adam” atau “Manusia”, “Insan”, “Nas” atau “makhluk hibrida baru”, melainkan langsung menyebutnya Khalifah. Bukan sekadar “Isim” tapi juga langsung “Af’al”.
Konsep Khilafah dengan pelaku Khalifah adalah bagian dari desain Tuhan atas kehidupan manusia di alam semesta. Adalah skrip-Nya, visi missi-Nya, Garis Besar Haluan Kehendak-Nya. Khilafah adalah UUD-nya Allah swt. Para Wali membumikannya dengan mendendangkan: di alam semesta atau al’alamin yang harus dirahmatkan oleh Khilafah manusia, adalah “tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar”. Tugas Khalifah adalah “pènèkno blimbing kuwi”. Etos kerja, amal saleh, daya juang upayakan tidak mencekung ke bawah: “lunyu-lunyu yo penekno”. Selicin apapun jalanan di zaman ini, terus panjatlah, terus memanjatlah, untuk memetik “blimbing” yang bergigir lima.
Khilafah adalah desain Tuhan agar manusia mencapai “keadilan sosial”, “gemah ripah loh jinawi”, “rahmatan lil’alamin” atau “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghofur”. Apanya yang ditakutkan? Apalagi Ummat Islam sudah terpecah belah mempertengkarkan hukum kenduri dan ziarah kubur, celana congklang dan musik haram, atau Masjid jadi ajang kudeta untuk boleh tidaknya tahlilan dan shalawatan. Mungkin butuh satu milenium untuk mulai takut kepada “masuklah ke dalam Islam sepenuh-penuhnya dan bersama-sama”. Itu pun sebenarnya tidak menakutkan. Apalagi dunia sekarang justru diayomi oleh “udkhulu fis-silmi kaffah”: masuklah ke dalam Silmi sejauh kemampuanmu untuk mempersatukan dan membersamakan.
Hari-hari ini jangan terlalu tegang menghadapi Kaum Muslimin. Kenduri yang dipertentangkan adalah kenduri wèwèh ambengan antar tetangga, bukan kenduri pasokan dana nasional. Toh juga dengan pemahaman ilmu yang tanpa anatomi, banyak teman mengidentikkan dan mempersempit urusan Khilafah dengan Hizbut Tahrir. HTI sendiri kurang hati-hati mewacanakan Khilafah sehingga dunia dan Indonesia tahunya Khilafah adalah HTI, bukan Muhammadiyah atau lainnya. Padahal HT maupun HTI bukan penggagas Khilafah, bukan pemilik Khilafah dan bukan satu-satunya kelompok di antara ummat manusia yang secara spesifik ditugasi oleh Allah untuk menjadi Khalifah.
Setiap manusia dilantik menjadi Khalifah oleh Allah. Saya tidak bisa menyalahkan atau membantah Allah, karena kebetulan bukan saya yang menciptakan gunung, sungai, laut, udara, tata surya, galaksi-galaksi. Bahkan saya tidak bisa menyuruh jantung saya berdetak atau stop. Saya tidak mampu membangunkan diri saya sendiri dari tidur. Saya tidak sanggup memuaikan sel-sel tubuh saya, menjadwal buang air besar hari ini jam sekian, menit kesekian, detik kesekian. Bahkan cinta di dalam kalbu saya nongol dan menggelembung begitu saja, sampai seluruh alam semesta dipeluknya -- tanpa saya pernah memprogramnya.
Jadi ketika Tuhan bilang “Jadilah Pengelola Bumi”, saya tidak punya pilihan lain. Saya hanya karyawan-Nya. Allah Big Boss saya. Meskipun dia kasih aturan dasar “fa man sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”, yang beriman berimanlah, yang ingkar ingkarlah – saya tidak mau kehilangan perhitungan. Kalau saya menolak regulasi Boss, saya mau kerja di mana, mau kos di mana, mau pakai kendaraan apa, mau bernapas dengan udara milik siapa. Apalagi kalau saya tidur dengan istri, Tuhan yang berkuasa membuatnya hamil. Bukan saya. Saya cuma numpang enak sebentar.
Hal-hal seperti itu belum cukup mendalam dan rasional menjadi kesadaran individual maupun kolektif Kaum Muslimin. Jadi, wahai dunia, apa yang kau takutkan dari Khilafah? Andaikan Khilafah terwujud, kalian akan diayomi oleh rahmatan lil’alamin. Andaikan ia belum terwujud, sampai hari ini fakta di muka bumi belum dan bukan Khilafah, melainkan masih Kaum Muslimin. Bahkan di pusatnya sana Islam tidak sama dengan Arab. Arab tidak sama dengan Saudi. Saudi tidak sama dengan Quraisy. Quraisy tidak sama dengan Badwy. Apa yang kau takutkan? Wahai dunia, jangan ganggu kemenanganmu dengan rasa takut kepada fatamorgana.