Tampilkan postingan dengan label polisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label polisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Desember 2017

Lagi Penista Agama Ditangkap Polisi



Seorang pria bernama Abraham Ben Moses (52 tahun) ditangkap tim tindak Satuan Petugas Siber Badan Reserse Kriminal Polri pada Selasa (5/12). Ia ditangkap di rumahnya di Jalan Hasyim Ashari Buaran Indah Tangerang.
Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Fadil Imran menjelaskan, pelaku mengunggah konten yang menyinggung suku, agama ras dan antargolongan (SARA). Konten itu diunggah di sebuah akun Facebook.
"Yang bersangkutan memposting di akun FB Saifuddin Ibrahim, milik yang bersangkutan, tentang ujaran kebencian terhadap agama tertentu SARA," kata Fadil, Rabu (6/11).
Kendati demikian, Fadil masih belum mau mengungkapkan secara rinci terkait bentuk unggahan SARA yang dimaksud. "Nanti kami sampaikan di rilis secara resmi," ujarnya saat dikonfirmasi.
Bersama Abraham, polisi mengamankan barang bukti berupa sebuah ponsel Iphone 6 Plus warna putih yang diduga digunakan untuk mengunggah konten SARA tersebut. Selain itu Abraham pun diamankan ke Bareskrim Polri.
"Yang bersangkutan dibawa ke Ditipsiber Bareskrim untuk dilaksanakan pemeriksaan," kata Fadil. Akibat perbuatannya, Abraham terancam pasal 28 ayat 2 UU No.19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE.(republika)

Selasa, 28 November 2017

Sebanyak 200 Polisi Amankan Tanwir ke-2 Pemuda Muhammadiyah



Sebanyak 200 personel keamanan dari Polres Palangka Raya dan Polda Kalteng akan mengamankan jalannya kegiatan Tanwir ke-2 Pemuda Muhammadiyah. Tanwir ini akan dipusatkan di lapangan Sanaman Mantikai, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Senin (27/11).

"Dari 200 personel yang kita libatkan pengamanan ini termasuk anggota "Crisis Respons Team" (CRT) dan Brimob Polda Kalteng. Semuanya personel sudah diberikan arahan tugasnya masing-masing di lokasi yang akan diamankan," kata Kabag Operasional Polres Palangka Raya Kompol Purwanto Hari Subekti di Palangka Raya, Sabtu (25/11).

Tidak hanya itu sejumlah armada, baik kendaraan roda empat maupun roda dua, yang menjadi penunjang bagi aparat keamanan di lapangan juga sudah dipersiapkan, sehingga bisa digunakan sewaktu-waktu dalam keadaan darurat atau krisis.

Kegiatan bertaraf nasional tersebut rencananya akan dihadiri sejumlah tokoh nasional, seperti Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, Ketua MPR RI Zulkfli Hasan, Ahmad Hanif Rais, Agus Harimurti Yudhoyono, dan Aryo Djojohadikusumo.

"Situasi kamtibmas sampai saat ini masih aman terkendali dan tidak ada gangguan keamanan. Situasi seperti ini kita harapkan terpelihara sampai kegiatan nasional ini selesai," ujarnya.

Beberapa ruas jalan yang bakal dilewati beberapa tokoh nasional juga akan dijaga sejumlah anggota satuan lantas dari kepolisian setempat. "Itu bertujuan agar sejumlah tokoh nasional yang melintas tidak terhambat, misalnya macet dan lain sebagainya. Maka dari itu kita tempatkan anggota di beberapa titik jalur itu," katanya. (sumber: antara)

Minggu, 05 November 2017

Penanganan Kasus Novel Oleh Polisi Kurang Dalam Meski Sudah On The Track




Pengamat Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar menyatakan penanganan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan secara normatif seperti termaktub di dalam KUHAP, memang berada di jalur yang tepat. Namun, masalahnya, kasus tersebut tidak ditelisik dengan mendalam.

"Apa yang dimaksud dengan on the track, kalau normatif sebagai tahapan KUHAP memang iya (sudah tepat), tapi tidak terlalu didalami," kata dia seperti dimuat dalam laman Republika.co.id, Ahad (5/11).

Semestinya, menurut Fickar, penanganan kasus Novel itu tidak hanya mengusut kejadian pada hari saat peristiwa terjadi. Namun, harus mencakup seluruh rangkaian peristiwa teror dan pengancaman terhadap Novel. Bahkan, termasuk teror terhadap penyidik KPK yang lain.

"Semua rangkaian peristiwa teror dan pengancaman terhadap Novel, bahkan juga teror kepada penyidik KPK yang lain serta teror terhadap KPK secara keseluruhan, itu harus dilihat dan diperiksa juga," tutur dia.

Karena itu, Fickar mengatakan, tim independen yang bertugas mencari fakta di balik teror penyerangan terhadap Novel Baswedan memang penting untuk dibentuk. Ini supaya penanganan kasus tersebut lebih komprehensif. "Pembentukan tim independen pencari fakta ini ini menjadi urgen agar lebih komprehensif menangani kasusnya," ujarnya.

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti sebelumnya menilai penyidikan yang dilakukan polisi terkait kasus penyiraman air keras terhadap Novel sudah berjalan sebagaimana mestinya. "Polisi dalam kasus ini masih on the right track," katanya.

Kompolnas telah memantau kinerja kepolisian dalam penyidikan kasus penyerangan Novel. Kompolnas sudah beberapa kali berkomunikasi dengan Polda Metro Jaya sebagai institusi yang menangani kasus Novel. Komunikasi terakhir antara Polda Metro dengan Kompolnas, lanjut Poengky, pada Jumat (3/11) lalu.

Berdasarkan audiensi tersebut, Kompolnas mendapat data bahwa polisi telah memeriksa sekitar 60 saksi. Kompolnas juga mendapatkan informasi terkait saksi yang dilepaskan lantaran memiliki alibi yang jelas. "Mereka (polisi) benar-benar melakukan scientific investigation. Mereka juga minta bantuan federal police, mereka tidak main-main," kata Poengky.(bpp/rep)

Kamis, 05 Oktober 2017

Hina Jendral Gatot, Nikita Mirzani Dilaporkan Polisi




Selebritas Nikita Mirzani dilaporkan ke polisi oleh gabungan pengacara yang menamakan diri Aliansi Advokat Al Islam NKRI, Selasa (3/10/2017). Nikita Mirzani dilaporkan ke Mapolda Sumatera Selatan karena dituding telah menyebar ujaran kebencian dan penghinaan terhadap Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Aliansi Advokat Al Islam NKRI menilai, cuitan di akun Twitter Nikita Mirzani telah menghina Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Para pengacara berharap, Nikita Mirzani segera diproses hukum dan menjadi pembelajaran warga Indonesia agar lebih bijak lagi menggunakan media sosial.
Beberapa waktu lalu, akun Twitter @NikitaMirzani ikut berkomentar soal nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan G30S/PKI. Ini yang dicuitkan akun Twitter @NikitaMirzani:
"Film G30s/PKI Kurang Seru.. Seharusnya Panglima Gatot juga Dimasukkan kelubang buaya pasti seru.."  Tapi kini cuitan itu telah dihapus dari akun @NikitaMirzani. (bbp/tnc)