Kamis, 05 Oktober 2017

Hina Jendral Gatot, Nikita Mirzani Dilaporkan Polisi




Selebritas Nikita Mirzani dilaporkan ke polisi oleh gabungan pengacara yang menamakan diri Aliansi Advokat Al Islam NKRI, Selasa (3/10/2017). Nikita Mirzani dilaporkan ke Mapolda Sumatera Selatan karena dituding telah menyebar ujaran kebencian dan penghinaan terhadap Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Aliansi Advokat Al Islam NKRI menilai, cuitan di akun Twitter Nikita Mirzani telah menghina Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Para pengacara berharap, Nikita Mirzani segera diproses hukum dan menjadi pembelajaran warga Indonesia agar lebih bijak lagi menggunakan media sosial.
Beberapa waktu lalu, akun Twitter @NikitaMirzani ikut berkomentar soal nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan G30S/PKI. Ini yang dicuitkan akun Twitter @NikitaMirzani:
"Film G30s/PKI Kurang Seru.. Seharusnya Panglima Gatot juga Dimasukkan kelubang buaya pasti seru.."  Tapi kini cuitan itu telah dihapus dari akun @NikitaMirzani. (bbp/tnc)

Rabu, 04 Oktober 2017

Tabiat





Oleh: Satria Maulana Kusumahdinata, September 2017

_“Weakness of attitude becomes weakness of character”_
Suatu hari waktu saya lagi celingukan mencari alamat, ada lelaki paruh baya yang mengarahkan motor yang saya tunggangi supaya parkir di hadapannya. “Mau ke klinik? Di sini aja parkirnya”. Saya pun memarkirkan motor di bahu jalan tempat ia tengah berdiri. Setelah saya selesai mengunci setang, lelaki itu mengajukan usul, “Parkirnya 3.000 ya, soalnya motornya besar, berat ngangkatnya”. Karena waktu itu saya tidak memiliki uang pecahan kecil, ia pun sepakat untuk menunda pembayarannya.
Begitu urusan di klinik selesai, saya kembali ke jalan dengan uang kembalian. Disodorkanlah selembar Rp10.000 sebagai uang pecahan terkecil. Begitu uang diterima, lelaki paruh baya tadi langsung mengakhiri kesepakatan dengan ucapan terima kasih. “Enggak usah kembalian aja ya, Kang. Nuhun”. Hmm. Tanpa banyak ba-bi-bu, saya relakan uang tersebut dengan pertimbangan toh saya memang tidak akan datang ke klinik itu lagi untuk kurun waktu yang lama.
Dari klinik, saya melanjutkan perjalanan ke sebuah toko grosir untuk berbelanja. Setelah menerima struk perbelanjaan, saya mengepalkan beberapa lembar uang kembalian untuk pramuniaga yang sigap melayani dan membantu mengikatkan belanjaan ke jok. Begitu sang pramuniaga tuntas berurusan dengan tali rafianya, saya sodorkan kepalan uang tadi ke arah tangannya. Tak disangka, ia langsung menolak pemberian saya seraya tersenyum dan berterima kasih. Jelas bukan penolakan basa-basi karena ia kontan beranjak masuk ke dalam toko.
***
Saya termenung di perjalanan pulang. Apakah juru parkir tadi terbiasa berbuat seperti itu? Permasalahannya sungguh bukan pada jumlah uang yang terlihat tak seberapa, melainkan perilaku yang telah terabadikan sebagai tabiat. Baik berupa kebiasaan untuk berbuat seenaknya dengan uang orang lain atau menolak uang tip untuk menjaga niat, keduanya merupakan bagian dari karakter seseorang.
Apakah juru parkir tadi lebih membutuhkan uang dibanding pramuniaga toko? Jelas keduanya sama-sama membutuhkan uang untuk penghidupan mereka. Namun cara yang masing-masing tempuh dalam membangun kebiasaan telah membedakan karakter keduanya dengan kontras. Siapapun akan merasa tidak nyaman saat harus berurusan dengan karakter serupa bapak juru parkir dan sebaliknya - menaruh rasa hormat saat mengetahui karakter serupa pramuniaga toko grosir tadi.
Maka berhati-hatilah. Mungkin tanpa sadar kita pernah menggunakan kepunyaan orang lain tanpa seizin pemiliknya. Perlu diakui bahwa kita kuat dalam membangun karakter namun masih lemah dalam mengawal proses membangun kebiasaan. Padahal, kelalaian itu bisa menghasilkan dampak berupa kebiasaan buruk yang diam-diam kita amini, bertumbuh perlahan dalam jangka waktu yang panjang kemudian kadung mengkristal sebagai tabiat yang mengemudikan kita.
_“Chains of habit are too light to be felt until they are too heavy to be broken”_
Awalnya, kita yang membangun kebiasaan. Kelak, kebiasaan yang telah susah payah kita bangunlah yang akan membangun (atau menghancurkan) kesan kita di mata orang lain. Sungguh ia bisa sedemikian melalaikan dan mengendalikan. Oleh karenanya, kecermatan diperlukan agar kita bisa mengawal proses membangun kebiasaan dengan seksama. Jangan sampai kita merugi karena sibuk membangun kebaikan di satu sisi tapi mengabaikan keburukan yang kepalang tumbuh terlalu liar di sisi lainnya.
Kalau memang mencegah lebih baik daripada mengobati, maka cermat dalam membangun kebiasaan jauh lebih ringan dibanding merombak karakter yang membutuhkan waktu serta pengorbanan yang lebih besar nantinya.
Laluilah proses sekecil apapun dengan sebaik mungkin. Ucapkan permisi saat melewati kerumunan orang, simpan sampah kering di saku kita sebelum menemukan tempat sampah, isi kembali tangki bensin kendaraan yang dipinjam dari orang lain, patuhilah rambu-rambu lalu lintas dan jangan sisakan makanan dari menu yang telah kita pesan sebelumnya.
Sungguh kita tak pernah tahu, dari kebiasaan yang mana keburukan yang ada dalam diri kita bermula lalu bertumbuh dan terbentuk. Kita pun tak akan tahu, dari tabiat yang mana kita akan dikenal, disimpulkan dan dikenang oleh orang lain. Maka, bentuk seburuk-buruk pengabaian adalah pengabaian terhadap diri sendiri karena saat kita mengabaikan keburukan mengakar di dalam diri, entah pihak mana yang suatu hari nanti akan menyemai kerugiannya dari diri kita.

Subhanallah Laba-laba Ini Punya Bokong Berbentuk Pikachu




Saat sedang melakukan penelitian di hutan belantara Honduras, penjelajah National Geographic Jonathan Kolby tak sengaja berjumpa dengan makhluk hidup yang sebagian tubuhnya menyerupai Pikachu.
Laba-laba micrathena (Micrathena sagittata) memiliki perut bagian belakang berwarna kuning cerah, dilengkapi dua duri panjang mencuat dengan ujung berwarna hitam. Selain kedua duri tersebut, terdapat pula beberapa duri lain yang lebih mengancam di struktur mirip Pikachu ini. Selain perut belakangnya, tubuh Laba-laba ini berwarna kemerahan, hampir menyerupai semut. 
Saat Kolby pertama kali bersua dengan laba-laba micrathena di lokasi penelitiannya di Taman Nasional Cusuco, fitur mirip kartun pada hewan ini langsung menarik perhatiannya.
"Duri-duri unik yang menonjol dari bagian tubuh belakangnya langsung menarik perhatian saya!" ujar Kolby dalam emailnya kepada National Geographic. 
Meski ini adalah pertama kalinya ahli amfibi melihat spesies laba-laba ini, namun sebenarnya, laba-laba micrathena dapat ditemukan di di seluruh Amerika Utara dan bahkan tersebar luas di Amerika Serikat. Mereka cukup sulit terlihat, karena ukuran tubuhnya relatif kecil. Laba-laba micrathena betina, yang dua kali lebih besar dibanding pejantannya, hanya berukuran sekitar 1cm, termasuk kaki-kakinya.
Bagian belakang berwarna kuning—yang hanya terbentuk pada spesies betina, kemungkinan berguna untuk menarik perhatian mangsa. Para ilmuwan meyakini bahwa fitur cerah tersebut mungkin dapat membantu laba-laba memangsa serangga. Studi tahun 2012 yang diterbitkan dalam jurnal Ecological Entomology meneliti laba-laba Australia berwarna hitam-kuning, dan menemukan bahwa perut berwarna cerah dapat membantu menarik perhatian mangsa.
Dalam penelitian itu, para periset menggunakan spidol hitam untuk menutupi bagian berwarna kuning cerah. Hasil pengamatan menunjukkan, laba-laba yang bagian tubuh berwarna kuningnya ditutup kurang sukses dalam menangkap mangsa. Seperti halnya laba-laba micrathena, laba-laba Australia merupakan tipikal predator yang "duduk dan menunggu" untuk menjerat mangsa di jaring-jaring besar. 
Ketika Kolby menemukan laba-laba pikachu di Honduras, hewan mungil itu tengah beristirahat di jaring-jaringnya yang tergantung di atas tanah. Ia kemudian mengambil foto dan membiarkan laba-laba tersebut dalam kedamaian, cukup puas untuk tak menangkap mereka semua.
Artikel ini sudah pernah tayang sebelumnya di National Geographic Indonesia dengan judul: Spesies Laba-laba yang "Menghidupkan" Pikachu di Dunia Nyata

Senin, 02 Oktober 2017

Muhammadiyah Bantu Masyarakat Miskin di Wilayah Hutan Kalimantan




Masalah yang kini dihadapi terkait kehutanan di Indonesia yaitu masih tingginya masyarakat miskin di kawasan hutan dan tingginya laju deforestasi dan degradasi hutan.
Pemerintah menyatakan, sampai sekarang  paling tidak ada 25.863 desa yang berada di kawasan hutan, 71% menggantungkan hidupnya dari sumber daya hutan,  dan diperkirakan terdapat 10,2 juta jiwa dalam kondisi miskin.  Adapun laju deforestasi di Indonesia pada periode 2000-2010 melesat hingga 1,2  juta hektar hutan alam  setiap tahun. (Kementerian Kehutanan).
Data BPS menunjukkan juga bahwa laju deforestasi di Kalimantan merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan kelima koridor ekonomi lainnya dengan laju lebih dari 5,5, Juta Hektar selama periode 2000 hingga 2009.
Menyikapi hal tersebut, maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah terpanggil dan menyatakan penting untuk secara aktif terlibat dalam penanganan kemiskinan di wilayah hutan yang diharapkan akan berdampak mengurangi laju deforestasi dan degradasi lahan kehutanan di Indonesia.
Oleh karena itu, sejak tahun 2016, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah didukung Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia dan KEHATI secara aktif bekerja di beberapa Kecamatan yang terletak di Kabupaten Berau Kalimantan Timur, diantaranya di Kampung Batu Rajang, Kampung Siduung Indah di Kecamatan Segah  serta Kampung  Long Keluh di Kecamatan Kelay.
Ketua MPM PP Muhammadiyah M. Nurul Yamin mengatakan selama 1,5 tahun terakhir ini MPM PP Muhammadiyah telah bekerja melakukan pendampingan kepada 214 Kepala Keluarga (KK)yang ada di tiga kampung tersebut.
“Pendampingan yang dilakukan mulai dari cara pembuatan pupuk organik KOCOR, pembibitan, perawatan tanaman, pengolahan  pasca panen. Ke depan sedang dikembangkan kelompok usaha bersama berupa koperasi yang akan menjadi ujung tombak dalam pemasaran hasil tanaman masyarakat hutan,” jelas Yamin saat melakukan penanaman lada pada Ahad (1/10) di Kabupaten Berau.
Yamin juga mengatakan sebagain besar pendapatan masyarakat di 3 kampung wilayah program MPM tersebut bersumber dari hutan, maka diperlukan upaya untuk memberikan income generating kepada masyarakat lokal tanpa merusak hutan.
Sementara itu Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan  penting untuk melakukan kegiatan pengentasan kemiskinan masyarakat yang hidup di sekitar hutan melalui pertumbuhan ekonomi rendah karbon terutama di  Kabupaten Berau. Sehingga  75% dari wilayah Kabupaten Berauyang  masih berhutandapat dipertahankan dari penebangan hutan, perkebunan dan pertambanganyang akan menimbulkan peningkatan emisi karbon.
“Komitmen Muhammadiyah dalam mengentaskan kemiskinan harus terus berjalan, khususnya bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan,” ungkap Haedar.
Di samping pendampingan aktif yang telah dilakukan di masyarakat,  MPM PP Muhammadiyah juga hari ini mulai akan melakukan penanaman bibit di lahan demplot dan lahan masyarakat.
Tahap awal diharapkan bibit bantuan minimal akan ditanam di 200 hektar lahan masyarakat. Bibit bantuan yang diberikan oleh MPM PP Muhammadiyah dengan MCA Indonesia kepada masyarakat hutan ini diantaranya Lada (49,500 bibit),  Gaharu (24,750 bibit), Bibit Empon-Empon (berupa jahe merah, jahe Kalimantan, kunyit, Kencur, sare, lengkuas, temulawak) : 525 paket, Bibit Sayuran (berupa Cabe rawit, tomat, terong, timun pare, sawi cabut, kangkung cabut, bayam cabut) : 214 paket, Bibit tanaman hutan (Meranti dan Sengon) : 7500 paket.
Selain itu, bantuan lain yang akan diberikan MPM PP Muhammadiyah kepada masyarakat adalah alat-alat pertanian, beberapa mesin pengolahan pasca panen, serta sarana dan prasarana koperasi.(moi)

Austria mulai berlakukan larangan kerudung penutup wajah di tempat umum Disambut Aksi Ubjuk Rasa




Undang-undang yang melarang kerudung penutup seluruh wajah di tempat umum sudah mulai diperlakukan di Austria mulai Minggu (01/10).

Pemerintah mengatakan undang-undang itu, yang mengharuskan wajah terlihat dari garis rambut hingga ke dagu- bertujuan untuk melindungi nilai-nilai Austria.
Kelompok pegiat Muslim di negara itu mengecamnya karena hanya sebagian kecil warga Muslim Austria yang mengenakan kerudung penutup seluruh wajah.
Sekelompok umat Islam dan pegiat hak asasi menggelar aksi unjuk rasa di ibu kota Wina pada hari penetapan larangan atas burka dan niqab.
Anggota parlemen dari Partai Rakyat -yang beraliran politik kanan tengah- Efgani Dönmez, mengatakan undang-undang itu diperlukan untuk menjamin nilai-nilai dari masyarakat yang bebas.
"Salah satu caranya adalah hak yang sama untuk pria dan wanita, tidak melarang perempuan di tempat umum. Kami tidak bisa menerima perempuan sebagai warga kelas dua."
Namun Carla Amina Baghajati dari Komunitas Agama Islam Austria, berpendapat mereka membutuhkan perasaan berada di dalam masyarakat, yang tidak dudukung oleh undang-undang ini.
"Umat Muslim khawatir populisme mengambil dan mereka amat khawatir dibuat menjadi bertanggung jawab atas serangan-serangan (teroris)."
Sebenarnya bukan hanya larangan burka atau niqab saja yang diatur dalam undang-undang, namun juga untuk masker kesehatan dan topeng badut yang menutup wajah.
___________________________________________________________________
Niqab dan burka
Niqab
Burka
___________________________________________________________________
Pemberlakuan UU ini menjelang pemilihan umum bulan depan, yang tampaknya akan meningkatkan perolehan suara bagi partai beraliran politik kanan jauh di Austria, seperti dilaporkan wartawan BBC, Bethany Bell dari ibu kota Wina.
Salah satu poster dari Partai Kebebasan -yang beraliran kanan jauh- bertuliskan 'Islamisasi harus dihentikan'.
Sekitar 150 perempuan Muslim diperkirakan mengenakan kerudung penutup wajah di Austria namun ada kekhawatiran dari pihak pengelola pariwisata bahwa larangan akan mengurangi kunjungan wisatawan dari kawasan Teluk.
Umat Islam di Austria diperkirakan mencapai 700.000 jiwa dari total sekitar delapan juta penduduk.
Austria, Islam, WinaHak atas fotoREUTERS
Image captionPara penentang larangan burka dan niqab mengenakan 'topeng badut' yang juga dilarang oleh undang-undang.
Prancis dan Belgia sudah memperlakukan larangan burka pada tahun 2011 dan parlemen Belanda sedang membahas larangan tersebut.
Sementara Kanselir Jerman, Angela Merkel, berpendapat penutup wajah penuh seharusnya dilarang di Jerman di 'tempat-tempat yang memungkinkan secara hukum'.
Adapun Inggris termasuk dalam negara di Eropa yang tidak memperlakukan larangan burka dan niqab di tempat umum. (sumber: BBC Indonsia)

Yusril Ihza Mahendra: Komunisme Itu Monolitik, Tidak Memberikan Kesempatan yang Lain Hidup




Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa ideologi Komunisme tidak mungkin dapat diterima dalam negara yang filosofinya itu adalah Pancasila. Menurutnya, sila pertama Pancasila sudah jelas yang menyatakan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa dan Komunisme itu mengembangkan suatu paham yang disebut Atheisme.


“Komunisme itu tidak mungkin dapat diterima didalam Negara yang filosofinya itu adalah Pancasila. Pertama, Pancasila itu jelas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Komunisme itu mengembangkan suatu paham yang disebut dengan Atheisme, baik Atheisme filosofis maupun Atheisme politik,” kata Yusril kepada abadikini.com sebelum nonton bareng film G30S/PKI di Markas Besar Partai Bulan Bintang, Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (29/09/2017) malam.
Yusril juga menjelaskan bahwa Atheisme itu ada dua, yaitu Atheisme filosofis dan Atheisme Politik. Atheisme Filosofis menurut Yusril berusaha untuk mempertahankan suatu keyakinan bahwa tuhan itu tidak ada berdasarkan argumen-argumen filsafat. Sedangkan Atheisme Politik menurutnya menggunakan politik untuk memberangus paham yang menganggap Tuhan itu ada.
“Walaupun dulu selalu dikatakan bahwa PKI itu membela kebebasan beragama, tapi kebebasan beragama dalam pengertian orang komunis itu adalah kebebasan untuk tidak beragama, kebebasan dalam penyebaran agama juga adalah kebebasan untuk menyebarkan proganda anti agama, saya kira itu mungkin tidak bisa diterima di Negara kita ini,” katanya.
Lebih lanjut lagi, Yusril menjelaskan bahwa menolak Komunisme itu karena mereka itu sebenarnya anti demokrasi, dalam sistem yang demokrasi semua kelompok itu boleh ada.
“Sesuatu yang tidak boleh ada itu ya kelompok yang memusuhi demokrasi itu sendiri, jadi tahap-tahap awal mereka berteriak tentang demokrasi tapi nanti apabila kekuatan politik sudah di tangan maka demokrasi itu dikendalikan oleh biro partai dan kenyataannya diktator, dimana-mana selalu begitu,” ujarnya.
Selain itu, Mantan Menteri Kehakiman RI juga menjelaskan bahwa kemudian Komunisme itu monolitik.
“Kemudian Komunisme itu monolitik ya, monolitik dalam artian dia hanya satu arah begitu, tidak memberikan kesempatan yang lain untuk hidup. Jadi saya melihat bahwa ini sebuah pelajaran,” katanya.(akc)

Minggu, 01 Oktober 2017

Inilah Pesan Haedar Nashir di Hari Kesaktian Pancasila




Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan agar masyarakat Indonesia dalam memaknai hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap 1 Oktober tidak hanya berujung pada seremoni semata.

“Pancasila harus menjadi dasar negara yang dapat ditransformasikan dalam kehidupan bernegara,” ucap Haedar, Sabtu (30/9).

Selain itu, Haedar juga mengatakan bahwa Pancasila harus dipraktekkan oleh para pejabat negara dan juga warga negara Indonesia.

“Pancasila jangan hanya sekedar disakti-saktikan, namun juga harus menjadi landasan nilai dalam mengimplementasikan kehidupan bernegara,” tegas Haedar.

Haedar mengatakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, seperti nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, nilai kerakyatan yang khidmat dan musyawarah, serta nilai keadilan, memiliki makna yang cukup penting dalam kehidupan bernegara.
Mengutip pesan Bung Karno, rakyat Indonesia jangan pernah melupakan sejarah. Rakyat Indonesia harus belajar dari pengalaman sejarah, khususnya dalam peristiwa G 30 S PKI. Yang mana pada peristiwa G30 SPKI tersebut, komunis telah beberapa kali melakukan pemberontakan terhadap keutuhan bangsa Indonesia, dan hal itu jelas bertentangan dan melawan nilai-nilai leluhur yang ada di dasar negara Indonesia.
Muhammadiyah memandang pentingnya penguatan Pancasila sebagai Dasar Negara dan sumber nilai dan etik yang memandu dan mempersatukan bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional Indonesia, yang sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.
Terlepas dari hal itu, Haedar juga berpesan kepada generasi muda untuk tidak memotong arus nilai dalam beragama, nilai dasar Pancasila, dan juga budaya leluhur.
“Bagi generasi baru, meskipun hidup di era baru, namun tetap tidak melupakan fundamental agama, nilai dasar pancasila, maupun budaya leluhur dalam berperilaku dan berinteraksi sebagai warga bangsa,” pungkas Haedar. (moi)