Jumat, 30 Juni 2017

Inilah Sepuluh Persoalan Bangsa Menurut Busyro Muqoddas




Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Busyro Muqoddas menyebutkan bahwa untuk mempertahankan kualitas sebagai umat unggulan dan sekaligus sebagaian bangsa yang berdaulat, kita perlu memahami secara garis besar permasalahan bangsa kita.
Busyro menyebutkan terdapat sepuluh masalah yang kini dihadapi bangsa Indonesia, Kesepuluh hal ini harus segera diatasi jika ingin menjadi bangsa yang unggul. 
Pertama, bahaya bisnis besar narkoba yang telah menjadikan Indonesia sebagai pasar utama bisnis barang mematikan itu. “Tercatat sudah terdapat jumlah pengguna narkoba sebanyak 5,9 juta. Korban yang tewas perhari 40 orang. Sasaran utamanya adalah generasi muda. Sejumlah aparat TNI, Polri, dan petugas BNN (Badan Narkotika Nasional) bahkan anggota DPRD terseret di dalamnya,” ungkap Busyro saat menyampaikan Khutbah Idul Fitri di Halaman Masjid Universitas Islam Indonesia (UII) Ahad (25/6).
Kedua, perampokan uang negara (korupsi) oleh aparat pemerintah pusat atau daerah, DPR/DPRD, DPD, Polisi, Jaksa, Hakim/Hakim Mahkamah Konstitusi, Menteri, Pengacara, Pebisnis Gelap dan Penyuap Pejabat, serta Dosen Negeri.
Ketiga, praktik jual jasa (suap)  izin pendirian hotel, apartemen, pusat belanja modern, penambangan minyak, gas, mineral batubara, dan tata ruang daerah maupun nasional.
Keempat, praktik penguasaan 77% kekayaan negara oleh 10 pengusaha hitam dan  1 pengusaha keturunan yang diizinkan  menguasai 6 juta hektar lahan.
“Kelima, tidak terbukanya aparat Polri dalam membongkar siapa sesungguhnya aktor dan dalang serangkaian panjang gerakan terorisme yang keji dan terkutuk,” tegas Busyro.
Keenam,  praktik mafia suap (uang sogok) oleh kalangan pebisnis busuk kepada pejabat, politisi parpol, dan aparat penegak hukum yang telah menghancurkan martabat bangsa.
Ketujuh, meluasnya kahadiran “generasi android” yang telah menyita waktu produktif mereka. 
Kedelapan, semakin terbiasanya ucapan bohong di depan jutaan rakyat dan pengakuan mendadak sebagai pejuang Pancasila dan NKRI tanpa bukti kejujuran dan kecerdasan.
Kesembilan, menjamurnya izin pasar dan pusat belanja modern berjejaring nasional yang mematikan pasar dan pusat ekonomi rakyat kelas menengah. 
Dan yang kesepuluh yaitu terjadinya kesenjangan ekonomi sebagai pemicu ketidakadilan sosial dan munculnya sikap radikalisme dalam masyarakat yang berujung pada terorisme. (bpp/mid)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar